Gosok Gigi, Kegiatan Rutin Yang Bisa Mengembangkan Otak Anak
Pada usia 3 tahun, anak tidak
hanya mengalami penambahan tinggi dan berat badan. Mereka juga mengalami
perkembangan sel-sel otak yang sangat pesat. Dengan berkembangnya sel otak,
kemampuan anak mengendalikan gerakannya pun semakin baik.
Di tahap ini, ada dua jenis gerakan
yang mulai dikuasai anak. Yang pertama adalah gerakan motorik kasar yang
melibatkan otot-otot besar, seperti memanjat, menyeimbangkan diri, berlari,
meloncat, mendorong, menarik, menangkap. Gerakan kedua adalah motorik halus
yang melibatkan otot-otot kecil, misalnya mengancingkan baju, menarik
retsleting, menggunting, menggambar, mewarnai, atau membentuk tanah liat.
Untuk melatih serta mengembangkan
kemampuan kedua gerakan itu, Bunda bisa memperkenalkan anak dengan kegiatan
harian. Salah satu contohnya adalah kebiasaan menggosok gigi. Dengan melatih
kebiasaan sehari-hari, berarti akan membuat anak lebih memusatkan perhatian
lebih lama terhadap sesuatu, sehingga otak menjadi lebih berkembang dan
fungsinya lebih maksimal.
Menurut dr Suraj Gupta dalam bukunya,
Panduan Perawatan Anak, membiasakan kegiatan menggosok gigi tidak
perlu menunggu anak berusia di atas dua tahun. Bunda bisa melakukannya sejak
dini. Dengan begitu, anak tidak asing dengan kegiatan menjaga kebersihan gigi
dan mulutnya.
Apa saja yang harus Bunda lakukan
untuk membuat anak rutin melakukan kebiasaan penting ini?
1. Memilih Peralatan Sendiri
Sebagai langkah awal, biarkan anak
memilih sikat dan pasta gigi yang disukai. Biasanya sikat gigi untuk anak-anak
berwarna-warni, pasta giginya pun tersedia dalam bermacam rasa. Dengan memilih
sikat dan pasta gigi sendiri, kegiatan menggosok gigi akan menyenangkan bagi anak.
Tentunya Bunda juga memberikan rekomendasi sikat gigi yang baik untuk
anak-anak, yaitu yang berbulu halus dengan gagang cukup kuat dan lebar.
2. Melakukannya Bersama-Sama
Anak tentu merasa lebih senang
melakukan kegiatan bersama-sama, baik dengan Bunda ataupun Ayah. Karena itu,
ajaklah anak menggosok gigi bersama, setiap malam sebelum tidur. Bahkan, Bunda
dapat menjadikan malam hari sebagai waktu untuk menggosok gigi bersama seluruh
anggota keluarga. Sehingga bisa menciptakan kedekatan antara anak dan keluarga.
3. Memberi Contoh
Banyak kebiasaan sehari-hari yang
dianggap hal baru bagi Anak. Tugas Bunda dan Ayah adalah memberi contoh dalam
melakukan hal tersebut. Bila sedang menggosok gigi, berikan contoh cara
menggosok gigi yang baik. Bunda tidak perlu memaksa anak mahir menggosok gigi
saat itu juga. Apalagi pada usia 3 tahun, kemampuan motorik halus anak belum
berkembang sempurna. Jadi, biarkan anak mengikuti gerakan menggosok gigi,
sesuai kemampuannya.
4. Tidak Terlalu Mempermasalahkan
Teknik
Menanamkan kebiasaan sehari-hari
membutuhkan perhatian khusus. Anak tentu saja tidak langsung bisa menjalankan
rutinitas ini. Perlu waktu untuk membuatnya terbiasa. Oleh karena itu, Bunda
tidak perlu mempermasalahkan teknik terlebih dahulu. Biarkan anak mengerti
dahulu tentang kebiasaan penting ini. Mengenai teknik, Bunda bisa mengajarkan
secara bertahap. Kalau di awal sudah diharuskan menggosok gigi dengan teknik
yang benar, anak malah akan malas melakukannya.
5. Memuji Hasilnya
Jika sudah melakukan kebiasaan ini
bersama-sama, memberi contoh, dan mengajarkan anak melakukannya sendiri, Bunda
harus memberi penghargaan. Pujilah hasil yang sudah dilakukan oleh anak.
Katakan bahwa giginya sudah lebih bersih setelah digosok. Jadi, di lain
kesempatan, anak akan lebih bersemangat saat menggosok gigi.
6. Lakukan Dalam Suasana Menyenangkan
Tips ampuh dalam mengajarkan sesuatu
pada usia batita adalah dengan melakukannya dalam suasana menyenangkan.
Ciptakan suasana seolah-olah kegiatan ini adalah sebuah permainan. Bunda bisa
membuat permainan saling membubuhkan pasta gigi. Dengan demikian, Anak tahu
bahwa menggosok gigi harus menggunakan pasta gigi. Selain itu, anak akan senang
melakukannya, karena merasa seperti sedang bermain.

No comments:
Post a Comment