![]() |
| KEBIASAAN ORANG TUA YANG MENYEBABKAN ANAK BERPERILAKU NEGATIF |
KEBIASAAN ORANG TUA YANG MENYEBABKAN ANAK
BERPERILAKU NEGATIF
Hello Bunda.. Pasti familiar banget kan dengan perilaku negatif anak? Tidak
bertanggung jawab misalnya. Sebenarnya ini berawal dari kebiasaan orang tua lho
Bun. Kok bisa?? Simak yaa!!
1.
Mengalihkan
Tanggung Jawab
Ketika anak
menangis karena jatuh terkena meja, orang tua mendiamkannya dengan memukul meja
tersebut. sebenarnya kebiasaan itu adalah kebiasaan pengalihan tanggungjawab. Memang
sih, niatnya orang tua baik, supaya anak berhenti menangis, tetapi sebenarnya
orang tua telah salah menempatkan perasaan. Akibatnya pada usia dewasa, anak
cenderung menyalahkan orang lain atas kegagalannya.
Bunda.. Saat anak terjatuh adalah momen emas untuk menyadari bahwa ada sebab ada
akibat, sekaligus membangun daya juang serta rasa tanggungjawabnya.
Jadi sebaiknya, Saat anak terjatuh lalu menangis, ajari dia untuk bangkit. Bahkan saat kita tidak berkata apa apa pun, anak akan berusaha bangkit sendiri. Terkadang tangisan anak malah terjadi karena orang tua terlalu overacting. Sesekali, diam saja dan berikan anggukan senyum atau berikan tangan Ayah atau Bunda untuk membantunya bangkit. Apabila merasa perlu penekanan, maka Bunda bisa mengatakan untuk berhati-hati dan bermain lagi. Bila ia terluka, cukup peluk untuk menghentikan tangisannya dan ajak dia untuk mengobati lukanya. Tindakan-tindakan ini lebih hemat kata-kata, lebih hemat tenaga, tapi lebih efektif untuk membentuk prilaku positif.
Jadi sebaiknya, Saat anak terjatuh lalu menangis, ajari dia untuk bangkit. Bahkan saat kita tidak berkata apa apa pun, anak akan berusaha bangkit sendiri. Terkadang tangisan anak malah terjadi karena orang tua terlalu overacting. Sesekali, diam saja dan berikan anggukan senyum atau berikan tangan Ayah atau Bunda untuk membantunya bangkit. Apabila merasa perlu penekanan, maka Bunda bisa mengatakan untuk berhati-hati dan bermain lagi. Bila ia terluka, cukup peluk untuk menghentikan tangisannya dan ajak dia untuk mengobati lukanya. Tindakan-tindakan ini lebih hemat kata-kata, lebih hemat tenaga, tapi lebih efektif untuk membentuk prilaku positif.
2.
Membohongi Anak
Saat kecil,
anak-anak selalu mendengarkan apa yang Bunda katakan. Akan tetapi semakin
besar, kok anak makin susah dinasihati? makin enggan menurut, atau malah
melawan. Apa anak-anak sudah tidak mempercayai kita lagi? Emm..
mungkin IYA! Coba tengok ke belakang, apakah kita pernah melakukan
kebohongan-kebohongan kecil? Misalnya
saat anak tidak mau makan, ibupun mengancamnya, "kalau nggak mau makan,
nanti nggak boleh main perosotan". Padahal akhirnya boleh juga, lagipula,
tidak ada hubungan antara makan dan main perosotan, kan? Mungkin inilah awal
ketidakpercayaan anak kepada orangtuanya. Anak tidak lagi percaya dengan apa
yang kita katakan.
Sebaiknya, jujur
dan proporsional dalam berkomunikasi dengan anak. Ungkapkan dengan penuh kasih
sayang dengan kata-kata yang mudah dipahami.
3.
Mengobral
Ancaman dan Omelan
"Adek, awas jangan naik
tinggi-tinggi, nanti jatuh loh!"
Mulai sekarang, bedakan
antara ancaman dan konsekuensi. Apabila Bunda
menyampaikannya dengan nada tinggi, tidak mengubah posisi tubuh kita, apalagi dengan
menunjuk-nunjuk anak, Bunda tengah mengancam anak. Namun apabila Bunda mengubah
posisi sehingga mata Bunda bisa bertatapan dengan mata anak, mengubah intonasi
jadi datar namun tegas, lalu konsekuensi benar-benar dijalankan terhadap anak,
maka Bunda tengah membuat sebuat konsekuensi.
Anak sangatlah cerdas, ia mempelajari
pola tingkah laku orang tua.Sebaiknya, saat anak melakukan kesalahan serius, coba
berhenti dari aktivitas Bunda, lalu minta anak untuk datang. Bicara dengan
tegas namun tetap lembut, jelaskan perasaan kita dan tunjukkan prilaku anak
yang mana yang harus diperbaiki serta sepakati konsekuensi yang akan didapat
apabila anak mengulangi prilaku negatif itu lagi, misalnya: “Adek, Ibu khawatir kalau Nina main terlalu jauh. Kalau
mau main agak jauh, ijin dulu ke Bunda yaa, nanti Bunda temani”
4. Menyerang Pribadi Anak, Bukan Perilakunya
Saat sedang capek-capeknya, Bunda ngomel tak karuan sehingga apa yang Bunda
bicarakan hanya hardikan. Bunda tidak bisa menyampaikan dengan jelas prilaku
apa tepatnya yang tidak Bunda inginkan dari anak, misalnya. “Duuh, kamu ini anak malas! Bermain melulu!" Kalau
hal ini dibiasakan, maka anak bisa merasa bahwa semua yang dilakukannya salah.
Anak bukanlah peramal yang bisa dengan tepat memperkirakan apa yang kita
inginkan, Bun. Sebaiknya gunakan kalimat yang spesifik pada perilaku yang
kurang tepat dan fokus memperbaiki di sana. Misalya, "Dek,
seharusnya Adek berhenti bermain sebelum jam 5 Sore”.
5. Memberi Dukungan pada Hal yang Salah
Menurut penelitian otak, otak kita memang lebih memperhatikan hal-hal yang
negatif. Demikian pula yang terjadi dalam dunia orang tua dan anak. Kerapkali
kita lebih tertarik untuk memperhatikan anak, justru saat mereka berbuat hal
yang kurang baik. Misalnya, saat anak bertengkar, baru kita beranjak
dari gadget kita. Atau saat anak merusak sesuatu, barulah kita
memperhatikannya, menasihati bahkan mengomeli. Sedangkan sebaliknya saat anak
menunjukkan prilaku yang baik kita malah biasa-biasa saja. Anak bisa jadi
berpikir bahwa untuk mendapatkan perhatian kita.
Sebaiknya beri penghargaan saat mereka berprilaku baik, misalnya saat
bermain dengan rukun, atau mereka mau berbagi, atau hal-hal sederhana seperti saat
anak meletakkan handuk pada tempatnya.
6. Merendahkan Diri Sendiri atau Merendahkan Pasangan
Apa yang Bunda lakukan kalau melihat anak anda bermain Playstation lebih dari belajar? Mungkin yang sering kita ucapkan
pada mereka, “Dek, matikan tuh PS nya, nanti dimarahin loh sama papa!”
Sebaiknya siapkan aturan main sebelum kita bicara; setelah siap, dekati
anak, tatap matanya dan katakan dengan nada serius bahwa kita ingin dia
berhenti bermain sekarang atau berikan pilihan, misal “Sayang, Bunda ingin kamu
mandi. Kamu mau mandi sekarang atau lima menit lagi?” Nah, persis setelah lima
menit, jika anak belum berhenti main PS, dekati dia, tatap matanya dan katakan
sudah lima menit, tanpa tawar menawar atau kompromi lagi. Jika sang anak tidak
nurut, segera laksanakan konsekuensinya.
7. Ayah dan Bunda Tidak Kompak
Mendidik anak bukan hanya tanggung jawab Bunda atau Ayah saja, tapi
keduanya. Orang tua harus memiliki kata sepakat dalam mendidik anak2nya. Anak
dapat dengan mudah menangkap rasa yang menyenangkan dan tidak menyenangkan bagi
dirinya. Jangan sampai ketika Bunda melarang anak untuk menonton TV, Ayah
membelanya dengan alasan agar anak tidak stress.
8. Campur Tangan Kakek, Nenek, Tante, atau Pihak Lain
Pada saat kita sebagai orang tua sudah berusaha untuk kompak dan sepaham
satu sama lain dalam mendidik anak-anak kita, tiba-tiba ada pihak ke-3 yang
muncul dan cenderung membela si anak. Pihak ke-3 yang dimaksud seperti kakek,
nenek, om, tante, atau pihak lain di luar keluarga inti.
Sebaiknya pastikan dan yakinkan kepada siapa pun yang tinggal di rumah kita
untuk memiliki kesepakatan dalam mendidik dan tidak ikut campur pada saat
proses pendidikan sedang dilakukan oleh kita sebagai orang tua si anak. Berikan
pengertian sedemikian rupa dengan bahasa yang bisa diterima dengan baik oleh
para pihak ke-3.
9. Menakuti Anak
Kebiasaan ini lazim dilakukan oleh para orang tua pada saat anak menangis
dan berusaha untuk menenangkannya. Kita juga terbiasa mengancam anak untuk
mengalihkan perhatiannya, “Awas ada Pak Satpam, ga boleh beli mainan itu!”
Hasilnya memang anak sering kali berhenti merengek atau menangis, namun secara
tidak sadar kita telah menanamkan rasa takut atau benci pada institusi atau
pihak yang kita sebutkan.
Sebaiknya, berkatalah jujur dan berikan pengertian pada anak seperti kita
memberi pengertian kepada orang dewasa karena sesungguhnya anak2 juga mampu
berpikir dewasa. Jika anak tetap memaksa, katakanlah dengan penuh pengertian
dan tataplah matanya, “Kamu boleh menangis, tapi Papa/Mama tetap tidak akan
membelikan permen.” Biarkan anak kita yang memaksa tadi menangis hingga diam
dengan sendirinya.
10. Ucapan dan Tindakan Tidak Sesuai
Berlaku konsisten mutlak diperlukan dalam mendidik anak. Konsisten
merupakan keseuaian antara yang dinyatakan dan tidakan. Anak memiliki ingatan
yang tajam terhadap suatu janji, dan ia sanga menghormati orang-orang yang
menepati janji baik untuk beri hadiah atau janji untuk memberi sanksi. So,
jangan pernah mengumbar janji pada anak dengan tujuan untuk merayunya, agar ia
mengikuti permintaan kita seperti segera mandi, selalu belajar, tidak menonton
televisi. Pikirlah terlebih dahulu sebelum berjanji apakah kita
benar-benar bisa memenuhi janji tersebut. Jika ada janji yang tidak bisa
terpenuhi segeralah minta maaf, berikan alasan yang jujur dan minta dia untuk
menentukan apa yang kita bisa lakukan bersama anak untuk mengganti janji itu.


No comments:
Post a Comment