| PERTUMBUHAN FISIK LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN |
PERTUMBUHAN FISIK
LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN
Perbedaan jenis kelamin antara anak
lelaki dan anak perempuan memang sangat mencolok. Mulai dari bentuk muka,
kemampuan motorik, hingga hobi adalah beberapa hal yang dapat membedakan jenis
kelamin seseorang. Tidak jarang orang tua rela membelikan atribut berbagai
macam pada diri anak mereka sebagai penanda feminitas atau maskulinitas. Bahkan sejak bayi sekalipun, ada dua warna utama yang
jadi acuan dalam berbelanja, yakni merah muda untuk wanita dan biru untuk laki-laki.
Setelah beranjak usia, orang tua pun mulai memberikan 'penanda' jenis kelamin
lain seperti mobil-mobilan untuk anak lelaki dan boneka barbie untuk si putri
cantik. Hmm, padahal selain atribut yang berasal dari luar, perbedaan jenis
kelamin dapat dilihat dari berbagai macam faktor, simak yaa Bunda..
Kemampuan Berbicara
Kebanyakan anak pria terlambat dalam
hal kemampuan bicaranya jika dibandingkan dengan anak perempuan. Tak hanya itu,
anak lelaki pun mimim kosa kata sehingga susah untuk merangkai kalimat. Di lain
pihak, anak perempuan memiliki kemampuan yang lebih baik di bidang membaca tanda-tanda
non verbal. Misalnya, membaca nada suara serta ekspresi muka orang lain. Itulah mengapa anak perempuan lebih pintar dalam hal
berkomunikasi karena cepat dalam hal menghubungkan perasaan dan merangkai
susunan kata-kata lebih cepat. Jika ingin anak laki-laki Bunda lebih pintar
berkomunikasi secara verbal, maka Bunda dapat mulai membacakan buku-buku yang
sekiranya menarik perhatian si kecil. Usahakan saat sedang membawakan cerita,
Bunda menjabarkan pula bagaimana pergolakan emosi karakter utamanya. Sehingga,
si kecil pun akan mulai belajar tentang apa yang dirasakan oleh orang lain.
Identitas kelamin
Si kecil baru dapat mengidentifikasi
jenis kelamin mereka sendiri pada awal usia 18 bulan. Namun baru saat menginjak
umur antara 2 sampai 6 tahun lah si kecil dapat membedakan jenis kelamin orang
lain dan cenderung lebih suka bermain serta berperilaku sesuai dengan
karakteristik jenis kelamin mereka. Misalnya anak perempuan cenderung lebih
suka bermain dengan sesama jenis mereka dan lebih memilih warna atau
benda-benda yang umum disukai oleh para perempuan.
Kemampuan Motorik
Anak laki-laki lebih cepat menguasai
kemampuan motorik seperti melompat, menyeimbangkan tubuh, serta berlari jika
dibandingkan dengan anak perempuan. Sebaliknya, kemampuan seperti memegang
pensil atau menulis biasanya dikuasai terlebih dahulu oleh anak perempuan.
Terkadang si cantik juga lebih mudah tertarik dengan hal-hal yang memiliki rasa
seni tinggi seperti mewarnai, kerajinan tangan, serta menggambar.
Tidak hanya itu, anak lelaki juga
lebih agresif serta impulsif dalam hal berperilaku. Pasalnya, ada bagian di
dalam otaknya yang disebut sebagai pusat rasa senang dan bagian tersebut
'menyala' setiap kali anak mengambil suatu resiko. Meksi begitu, tidak berarti
semua anak wanita cenderung pasif dan takut mengambil resiko loh, Bun. Ada
sebagian anak perempuan yang luar biasa pemberani, bahkan melebihi keberanian
anak laki-laki. Hanya saja rata-rata si ganteng yang memiliki perilaku lebih
aktif dan suka tantangan.
Toilet training
Sama halnya dengan urusan membaca
atau berkomunikasi, anak perempuan pun lebih mudah untuk didisiplinkan.
Rata-rata anak perempuan memulai toilet training lebih awal dari anak pria. Para ahli setuju bahwa alasan biologis adalah faktor
utama mengapa anak lelaki bersifat sangat 'maskulin' dan anak perempuan
cenderung berakting 'feminin'. Meski begitu, hormon maupun anatomi tubuh
sendiri tidak cukup untuk menjelaskan mengapa dua jenis kelamin tersebut sangat
berbeda satu sama lain. Bahkan ada
dorongan sosial di masyarakat yang berusaha mendorong agar laki-laki dan
perempuan diarahkan ke jalur yang berbeda sejak terlahir ke dunia. Maksudnya
jalur berbeda adalah pemberian pilihan, atribut, serta cara berkomunikasi oleh
orang tua (serta masyarakat pada umumnya) terhadap kedua jenis kelamin.
Pakaian: Gaun dan Baju Olahraga
Pakaian: Gaun dan Baju Olahraga
Ketika anak perempuan berusia 2 tahun
dan anak lelaki berusia 3 atau 4 tahun, mereka sudah mengerti konsep perbedaan
antara pakaian perempuan dan laki-laki. Hebatnya mereka pun merasa enggan untuk
melanggar konsep tersebut. Sejak masih batita, anak perempuan sering sekali
menerima pujian yang terkait dengan warna bajunya, pita di rambut, manisnya
sepatu mereka, dan lain sebagainya. Itulah mengapa saking terbiasanya dengan
pujian, si kecil memaksa memakai gaun terbaiknya bahkan saat acara kemping
sekalipun. Anak laki-laki pun tidak berbeda jauh. Mereka suka sekali
menunjukkan maskulinitas dengan memakai atribut-atribut kaos sepak bola atau
yang berhubungan dengan basket. Biasanya mereka punya satu baju favorit yang
selalu jadi pilihan saat ada acara keluar rumah.
Baby talk
Sejak awal dilahirkan pun, bayi
laki-laki sudah menerima cara berkomunikasi yang berbeda. Misalnya saja saat
teman Bunda menjenguk si kecil yang baru dilahirkan. Melihat ia mengenakan baju
berwarna pink, pasti deh komentarnya "Aduh, bayi ini cantik
sekali deh!". Padahal, seringkali
ia tidak mengetahui apa jenis kelamin si bayi, hanya menebak dari warna baju
saja. Sebaliknya, apabila sang bayi mengenakan pakaian berwarna biru, maka
komentar orang sekitar adalah, "Ganteng bukan main, ya Bu? Persis
Ayahnya!". Sekali lagi, tanpa
mengetahui dengan jelas apa jenis kelamin sang buah hati terlebih dahulu.
Susan Witt profesor yang bergerak di
bidang perkembangan anak dari Universitas Akron di Ohio mengatakan bahwa
umumnya orang tua cenderung menggunakan gaya bicara yang berbeda dan
menyesuaikan dengan jenis kelamin si kecil. Misalnya saja anak perempuan
cenderung dibelai dan digoda dengan kata-kata lembut nan manis.Sedangkan anak
pria? Hmm, biasanya sih Bunda lebih suka menggelitiki perutnya agar ia tertawa.
Reaksi emosi: Nangis itu cuma buat cewek!
Hmm, entah darimana asal mula hukum
ini berasal. Tapi memang ada hukum tak tertulis sejak dulu kala dimana anak
wanita boleh menangis saat terjatuh dari sepeda. Namun, anak lelaki, mau
lututnya lecet sekalipun, lebih sering disuruh menahan tangis dengan ucapan
seperti, "Hayo, anak cowok nggak boleh nangis!'. Entah apakah
ini suatu perbedaan yang baik atau buruk, namun susah rasanya untuk merubah
stigma ini. Bagaimanapun, laki-laki memang sudah kodratnya sebagai pemimpin dan
pelindung bagi perempuan. Oleh karena itu, menahan rasa sakit dan berusaha
tidak menampakkan air mata adalah salah satu cara menunjukkan maskulinitas para
lelaki.
Stereotip Jenis Kelamin di Televisi
Menurut Mary Margaret Reagan-Montiel, manajer program pendidikan anak usia
dini dari National Institute on Media and the Family, anak-anak mencari penBunda jenis kelamin mereka
melalui tayangan televisi. Beberapa tokoh perempuan kartun dapat menjadi role
model yang tepat bagi putri Bunda, misalnya
tokoh Dora the Explorer.
Untuk lelaki, sepupu Dora yang bernama Diego juga bisa menjadi role
model bagi anak lelaki. Pemilihan tayangan kartun yang baik untuk anak memang
kadang susah untuk dilakukan, mengingat Bunda seringkali banyak urusan dan terpaksa
meninggalkan si kecil di depan TV tanpa pengawasan. Ada baiknya Bunda mencari
informasi dari internet tentang rekomendasi tayangan anak yang bermutu.

No comments:
Post a Comment