STIMULUS 5 ASPEK PERKEMBANGAN ANAK
LEWAT KEGIATAN SEDERHANA
Bila ingin si Kecil cerdas,
perhatikan stimulasi aspek kognisinya.
Ya, kognisi kalau disederhanakan
berarti kemampuan otak untuk mengembangkan kemampuan rasional. Kemampuan
ini mencakup aspek pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis, dan
penilaian (penghargaan dan evaluasi). Aktivitas ini jelas melibatkan kemampuan
berpikir si Kecil. Bagaimana ia mengolah informasi, memecahkan masalah, dan
bereaksi terhadap sebuah peristiwa. Semakin baik kemampuan kognisi si Kecil,
semakin cepat ia menguasai sesuatu serta semakin tepat dia bertindak.
Pertanyaannya, bagaimana cara
melatih kognisi si Kecil? Gisella Tani Pratiwi, M.Psi menuturkan,
ada 5 aspek yang dapat diasah agar kemampuan kognisi si Kecil berkembang
optimal, berikut di antaranya:
- Atensi
Atensi adalah istilah lain dari
perhatian, sebuah proses menangkap informasi dengan indra, proses mengingat,
maupun proses kognitif lainnya. Anak dengan atensi baik dapat memusatkan dan
mempertahankan konsentrasi pada aktivitas yang dilakukan, misal, saat
menyusun balok, menggambar, dan berinteraksi dengan teman sebayanya.
Kemampuan ini di masa sekolah sangatlah penting, karena anak harus memusatkan
perhatian pada berbagai hal yang terkait dengan materi akademis.
Normalnya, menurut Gisella,
kemampuan atensi yang sebaiknya dimiliki anak 1-2 tahun adalah 5 menit, anak
3-4 tahun 10 menit, dan anak 4-5 tahun 15 menit. Meski begitu, tetap saja pada
masa balita, kemampuan konsentrasi anak tidak sebaik usia di atasnya.
“Anak-anak mungkin saja masih mudah terdistraksi (teralih perhatiannya) saat di
sekolah. Selain karena kemampuan konsentrasi masih berkembang, si Kecil juga
sedang dalam masa eksplorasi dimana rasa keingintahuannya sangat besar,
sehingga mudah teralih pada hal-hal yang menarik perhatiannya,” kata Gisella.
Jadi meski perhatian si Kecil masih mudah teralih, bukan berarti ia tidak
memiliki kemampuan berkonsentrasi.
Stimulasi:
Berikut stimulasi yang dapat
diberikan agar atensi si Kecil optimal:
- Belajar lewat komunikasi sehari-hari.
Saat berkomunikasi dengan si Kecil, posisikan tubuh orangtua
sejajar dengannya, sehingga ia nyaman berbicara tanpa perlu mendongakkan
kepala. Cobalah berbicara dengan jelas, runut, dan tidak terburu-buru. Tatap
wajah dan mata si Kecil saat berkomunikasi. Lakukan pembicaraan sampai tuntas.
Hal yang sama berlaku saat si Kecil mencoba berbicara dengan orangtua. Hindari
berkomunikasi sambil lalu, bermain handphone, atau mendengarkan
seperlunya.
- Membacakan Cerita
Ini sangat baik mengasah konsentrasi, atensi, dan imajinasi
si Kecil. Pilih buku dongeng menarik sesuai dengan usia si Kecil. Minta ia
untuk mendengarkan dengan baik, berikan intonasi dan nada yang sesuai
dengan jalan cerita. Bacakan cerita sampai selesai. “Dengan cara itu, si
Kecil tahu setiap aktivitas memiliki permulaan sekaligus akhir,” kata Gisella.
- Hindari Kebiasaan Memotong Pembicaraan
Memotong pembicaraan tidak mengajarkan kepada si Kecil
bagaimana menjadi pendengar yang baik. Dengan kata lain, ajari si Kecil agar
tidak melakukan hal ini. Orangtua harus menjadi teladan, saat menjadi pendengar
bagi anak, jangan dulu menginterupsi sebelum anak menyelesaikan pembicaraannya.
- Mainan atau Alat Bantu
Ada banyak sekali mainan atau alat bantu yang dapat
melatih atensi si Kecil, seperti balok susun, mainan kartu, meronce
manik-manik, atau menyusun puzzle. Namun, hindari memberikan stimulasi
berlebihan saat bermain. Pada gilirannya, biarkan anak bermain sesuka hati
mengikuti imajinasinya.
- Bahasa
Kemampuan berbahasa atau kemampuan
berbicara yang perlu dilatih di masa balita adalah kemampuan ekspresif dan
kemampuan reseptif. Kemampuan ekspresif adalah kemampuan si Kecil berkata-kata,
menyuarakan nada, mengungkapkan emosi, dan lain-lain. Sedangkan kemampuan reseptif
adalah bagaimana si Kecil menyerap, menangkap, dan memahami apa yang
disampaikan. Anak usia 1-2 tahun, kemampuan ekspresifnya masih terbatas karena
kemampuan berbicaranya masih terbatas, tapi kemampuan reseptifnya sudah
berkembang dengan baik. Ini berbeda dengan anak 3-5 tahun yang kemampuan
reseptif dan ekspresifnya sudah berkembang dengan pesat.
Stimulasi:
- Banyak-banyaklah berkomunikasi dengan si Kecil,
sehingga perbendaharaan kosakatanya akan meningkat pesat. Kemampuan
eksresif dan reseptifnya meningkat.
- Kenalkan dan tegaskan berbagai emosi lewat kata-kata,
baik senang, sedih, marah, malu, dan lainnya. Gisella menyarankan agar
orangtua memperlihatkan bagaimana perbedaan berbagai ekspresi emosi itu
lewat intonasi, mimik muka, dan lainnya.
- Hindari memberi si Kecil gadget tanpa
pendampingan meski tujuannya untuk menghibur. Selain berisiko menyebabkan
kacanduan, gadget juga dapat menghambat kemampuan berbahasa aktif,
sehingga saat menggunakannya si Kecil dan Bunda harus tetap berinteraksi,
seperti mengenalkan warna, binatang, dan lainnya.
- Hindari menonton teve terlalu lama.
- Gunakan flash card agar si Kecil lebih banyak
mengenal kosakata.
- Sebelum mengenalkan bahasa asing, pastikan si Kecil menguasai bahasa ibu terlebih dahulu agar ia tidak mengalami bingung bahasa.
- Memori
Memori adalah kemampuan si Kecil
mengumpulkan, menyimpan, dan mengeluarkan informasi yang diterima. Kemampuan
memori sama halnya dengan kemampuan mengingat. Di usia balita, kemampuan daya
ingat si Kecil masih terbatas. Untuk itu, orangtua perlu melatihnya.
Stimulasi:
- Menceritakan pengalaman sehari-hari. Misal, sehabis
pergi bertamasya ke kebun binatang, coba ingatkan si Kecil pengalaman yang
baru dialaminya, naik kendaraan apa, hal paling berkesan selama
perjalanan, binatang apa sajakah yang ditemui, dan lain-lain.
- Setelah diacak, minta si Kecil mengurutkan kembali
berbagai benda dari yang paling kecil ke paling besar atau sebaliknya.
- Bermain kartu. Perlihatkan dua atau tiga pasa kartu.
Setiap pasang kartu harus bergambar sama. Jajarkan kartu-kartu itu, minta
si Kecil mengingat gambar-gambar di kartu dan letaknya, lalu tutup kartu
itu. Setelahnya, perintahkan si Kecil untuk membuka satu kartu dan
mencari pasangannya. Semakin kuat daya ingatnya, semakin mudah ia
menemukan kartu yang dibukanya.
- Simpan beberapa mainan di beberapa tempat tersembunyi dengan mengajak si Kecil. Lalu, setelah semua mainan disembunyikan, minta si Kecil menemukan mainan yang Bunda sebutkan. Setiap kali ia bisa mengingat letak dan menemukan mainan yang dimaksud, berikan pujian.
- Problem Solving
(Kemampuan Memecahkan Masalah)
Ajari si Kecil kemampuan untuk
memecahkan masalah sejak dini. Dengan kemampuan berpikir konkret yang merupakan
kekhasan anak usia prasekolah, si Kecil bisa diajak mencari solusi yang juga
bersifat konkret atau yang bisa dilihat, diraba, dan dipegangnya.
Stimulasi:
- Perlihatkan hubungan sebab akibat atau aksi dan reaksi.
Misalnya, sediakan dua buah gelas berbeda ukuran, yang lebih besar terisi
penuh dengan air, yang lebih kecil kosong. Minta ia menuang air dari gelas
besar ke gelas kecil. Lihatlah, karena ukurannya yang lebih kecil, gelas
itu tidak dapat menampung seluruh air dari gelas besar. Air pun tumpah.
- Ajak si Kecil memasukkan mainan ke lubang yang
bentuknya sesuai. Perlihatkan apa yang terjadi bila mainan
dimasukkan ke lubang yang tidak sesuai dengan ukuran dan bentuknya.
- Biarkan si Kecil mencoba melakukan rutinitasnya sendiri
tanpa dibantu. Misal, makan dan minum, buang air di toilet, memakai baju,
dan sebagainya.
- Biasakan memberi solusi pada masalah yang ditemui, misal, tidak membuang mainan yang rusak, tapi memperbaikinya.
- Psikomotorik
Kemampuan psikomotorik berkaitan
dengan kemampuan bertindak yang dilakukan si Kecil setelah mempelajari sesuatu.
Kemampuan bertindak ini melibatkan aktivitas otot motorik kasar, misalnya lari,
melompat, memukul dan aktivitas motorik halus seperti, menggambar, menulis,
menjumput, dan memegang.
Stimulasi:
- Minta si Kecil untuk menggambar sesuai kemampuannya.
Mulai corat-coret hingga menggambar objek yang jelas maksudnya.
- Minta si Kecil menjumput mainan atau benda kecil, lalu
masukkan ke wadah.
- Ajak si Kecil bergerak untuk melatih keseimbangan
dengan berjalan di titian, memanjat, naik-turun tangga, merangkak, dan
menangkap. Mengajaknya bersenam juga meningkatkan mood positif si
Kecil.
- Bermain pasel, bermain susun balok, dan menempel
kolase.

No comments:
Post a Comment