![]() |
| TIPS MEMBUAT ANAK LEBIH BAHAGIA |
TIPS MEMBUAT ANAK
LEBIH BAHAGIA
Apa yang bisa orang tua lakukan agar anak melewati masa
kecilnya dengan bahagia? Artikel ini akan memebrikan tips yang bisa ayah dan
bunda lakukan agar anak lebih bahagia dan tentunya akan sangat berpengaruh
terhadap tumbuh kembangnya.
1. BAHAGIA DULU
Ayah dan bunda perlu berkomitmen untuk berbahagia terlebih
dulu. “Karena bahagia itu menular,” begitu menurut British Medical Journal.
Selain itu, Sean Grover, L.C.S.W., psikoterapis dan penulis buku When
Kids Call
the Shots: How to Seize Control from Your Darling Bully and Enjoy Being a
Parent Again, yang dilansir dari psychologytoday.com, juga menuturkan
pentingnya "Happy Parents, Happy Kids". Ini merupakan pesan
sederhana, yakni orang tua bertanggung jawab menjadi orangtua yang bahagia,
lalu menunjukkan, serta menularkan gaya hidup yang bahagia tersebut kepada anak
dalam hidup sehari-hari. Salah satu caranya, dengan melakukan hal yang
menyenangkan dan sering tertawa bersama anak.
2. PERLIHATKAN CINTA KEPADA ANAK
Amy Bohnert, psikolog dan peneliti perkembangan anak dari
Loyola University Chicago, Illinois, AS, mengungkapkan, terdapat banyak cara
dan, tentunya berbeda-beda, dalam seni mengurus anak. Tak ada formula tepat
yang bisa disamakan kepada setiap anak, namun hal paling mendasar adalah orang
tua yang menunjukkan cinta yang hangat kepada anak-anaknya, akan membuat rasa
bahagia, nyaman dan aman bagi si kecil. Misalnya, ayah dan bunda selalu memilih
menggunakan kata-kata positif setiap hari ketika berinteraksi dengan anak.
3. MENANAMKAN SIFAT OPTIMIS
Memiliki sifat optimis berkaitan dengan hidup yang bahagia.
Demikian ujar Christine Carter PH.D., salah satu penulis buku Raising
Happiness: 10 Simple Steps for More Joyful Kids and Happier Parents. Kenalkan
dan ajarkan anak untuk selalu optimis serta mengajarkan anak melihat sisi baik
dari tiap pengalaman yang tidak menyenangkan. Misalnya, saat tidak bisa
bersepeda karena di luar sedang hujan. Sisi baiknya, orang tua dan si kecil
jadi bisa menghabiskan waktu di dalam rumah. Misalnya, dengan belajar membuat
kue kering bersama.
4. AJARKAN KECERDASAN EMOSIONAL
Kenalkan di tiga tahun mengenai macam-macam emosi, serta
cara mengendalikannya. Misal, ketika ia sedang cemberut, karena tidak di
belikan mainan yang ia minta. Tanyakan, “Kenapa kamu cemberut, Nak? Kamu kesal
karena bunda tidak belikan mainan, ya?” Dengan demikian, anak belajar mengenal
emosi yang sedang ia alami, serta penyebabnya. Kenalkan juga emosi lain,
seperti senang maupun marah. Setelah mengenali emosi, ajarkan si kecil untuk
bisa mengontrol emosi yang ia sedang alami. Misalnya, daripada marah dan
merengek tanpa henti, ia mesti belajar bersabar untuk mendapatkan sesuatu yang
sedang ia inginkan.
5. KONTROL DIRI
Menjadi bahagia bukan berarti bebas melakukan apa saja
sebebas-bebasnya, tanpa batasan. Tanamkan juga kepada si kecil konsep disiplin.
Kedisiplinan bukan hanya berkaitan dengan kehidupan yang sukses kelak, namun
juga terhadap kebahagiaan. Buktinya adalah hasil dari Marshmallow Test, yakni
penelitian yang dilakukan Psikolog Walter Mischel pada tahun 1960-an kepada
balita. Tes ini memberikan satu marshmallow dan meminta balita memilih, yakni
sabar menunggu, sebab akan diberi satu buah lagi atau bila ingin segera
memakannya pun tidak masalah. Menurut hasil penelitian tersebut — anak-anak
yang yang diteliti kini telah berusia 40–50 an, mereka yang mendapat dua
marshmallow mampu menyelesaikan studi tepat waktu, berpenghasilan lebih tinggi,
serta tidak mengalami overweight. Balita yang mampu belajar mengontrol diri
akan membantu ia mengatasi gangguan yang terjadi. Ia jadi tidak mudah terganggu
dan menjadi pribadi yang bahagia.
6. MORE PLAYTIME!
Bermain sendiri maupun dengan teman sama menyenangkannya,
serta kaya manfaat. Mengasah gerak motorik dan melatih empati merupakan hal
lain. Christine Carter menyebutkan, dengan bermain, si kecil sebetulnya sedang
mempraktikkan mindfulness, yakni memusatkan fokus secara penuh terhadap apa
yang sedang dilakukan saat ini (living in the moment). Hal ini merupakan salah
satu cara yang kerap dilakukan sebagai terapi, ketika sedang berada di bawah
tekanan. Untuk itu, biarkan si kecil bereksplorasi dengan mainan dan
imajinasinya!
7. BERMAIN DENGAN TEMAN
Ajarkan si kecil bersosialisasi, meski ia tergolong tipe
yang senang sendiri maupun pemalu. Menurut psikolog Sandee McClowry dari New
York University, AS, sifat pemalu memang merupakan salah satu karakter, maka
perlu cara khusus untuk membuat ia mau berteman. Caranya antara lain dengan
mengajak ia bermain dengan anak yang lebih muda, atau memberi ia tugas
menyambut tamu di rumah. Dengan memiliki teman bermain, anak belajar banyak hal
yang membuat hidup lebih berwarna, yang menjadi modal untuk merasa bahagia.
Empati anak juga akan terasah. Misalnya, ketika temannya sedih, ia akan
menghibur atau berbagi ketika teman tidak membawa bekal. Berikan petunjuk
praktis, misalnya dengan menyapa orang lain atau bergabung dengan teman yang
sedang bermain.
8. LINGKUNGAN YANG BAHAGIA
Laura Kubzansky, profesor ilmu sosial dan perilaku dari
Harvard School of Public Health, AS, mengungkap, faktor keturunan (gen) dari
orang tua yang berbahagia memiliki pengaruh yang besar untuk menghasilkan
anak-anak yang berbahagia pula. Namun tidak cukup sampai di situ, sebab
lingkungan juga memiliki pengaruh terhadap kebahagiaan psikologis. Dalam
bukunya, Christine Carter menyebutkan, banyak penelitian mengungkap hubungan
kecenderungan orang yang bahagia adalah orang-orang yang jarang menonton TV.
Meski belum diketahui apa hubungannya, namun dengan tidak terlalu sering
terpapar TV, maka si kecil jadi bisa melakukan aktivitas aktif lain.
9. MEMOTIVASI ANAK
Umumnya orang tua berharap anak-anaknya dapat tumbuh cerdas
dan sejahtera kelak. Maka, mengajarkan anak disiplin itu perlu, namun hindari
bila terlalu berlebihan, apalagi sampai memaksa anak. Sebuah penelitian dari
Journal of Personality menyebutkan, orang tua yang terlalu memaksa anak
melakukan sesuatu agar bisa memperoleh nilai tinggi di sekolah, lebih rentan
menjadi pribadi yang sangat kritis terhadap diri sendiri (terlalu menyalahkan
diri sendiri, bila suatu kali gagal), berisiko mengalami kecemasan dan depresi.
Hal ini tentu merenggut kebahagiaannya.
10. WAKTU YANG BERKUALITAS
Saat ayah dan bunda mengobrol dengan si kecil, ayah dna
bunda jadi bisa tahu apa saja yang terjadi hari itu kepadanya, selama ayah dan
bunda di kantor seharian ini. Dongeng yang menarik yang diceritakan oleh guru
di sekolah, bermain permainan baru dan seru dengan teman, dan menu makan siang
di sekolah yang enak, misalnya. Di tengah kesibukan pagi, ayah dan bunda tetap
bisa mengajak ia bicara di meja makan, atau saat mengantar ia ke sekolah. Dan,
hari si kecil akan semakin lengkap dan bermakna, jika malam hari ditutup dengan
makan bersama, lalu mengantar ia tidur. Itu semua akan membuat si kecil merasa
diperhatikan dan menumbuhkan perasaan bahagia.
11. DENGARKAN SUARANYA
Berikan si kecil tempat untuk didengarkan suaranya. Misalnya,
dengan membiarkan ia menentukan menu makan siang hari ini, ide aktivitas di
akhir pekan nanti akan menghabiskan waktu di mana, pakaian yang akan ia
kenakan, dan sebagainya. Yang tak kalah penting pula adalah mendengarkan dan
selalu menjawab segala pertanyaan ajaibnya, seperti mengapa adik harus minum
susu, kenapa bunda harus pergi kerja, dan sebagainya. Hal ini bisa membuat si
kecil jadi merasa dihargai serta bahagia.
12. BIASAKAN BAHAGIA
Jadikan bahagia sebagai gaya hidup. Sebab, bila sudah menjadi
kebiasaan, hal ini tentu menjadi hal yang otomatis terjadi sehari-hari. Tantang
diri ayah dan bunda serta si kecil untuk menerapkannya setiap hari. Christine
Carter menyebutkan salah satu yang membiasakan agar terbiasa hidup bahagia,
yakni membuang jauh-jauh gangguan atau mencegah hal yang bisa membuat tidak
bahagia.


No comments:
Post a Comment