![]() |
| WAJIBNYA MENGAJARI ANAK ADAB & SOPAN SANTUN |
WAJIBNYA MENGAJARI ANAK ADAB & SOPAN SANTUN
Salah satu kewajiban orangtua dalam
mendidik anak adalah dengan mengajarkan adab dan sopan santun sejak dini.
Mengapa sejak dini? Karena adab dan sopan santun adalah hal yang harus
ditumbuhkan dan dibiasakan sejak kecil, dimana anak masih dapat kita bentuk
menjadi pribadi yang berakhlak baik dan berbudi pekerti. Sesuatu yang
dibiasakan sejak kecil, insya Allah akan lebih tertanam kuat dalam diri seorang
anak. Daripada ketika kita baru menanamkan adab dan sopan santun itu setelah
mereka besar, sedangkan mereka terbiasa hidup dengan semaunya.
Keteladanan orangtua adalah
kuncinya. Anak-anak tidak akan belajar kecuali dari apa yang mereka lihat
dan
mereka dengar dari orangtua mereka. Mereka menyerap setiap kata yang kita
ucapkan. Mereka meniru setiap gerak yang kita lakukan. Bagaimana mereka
terbentuk adalah cerminan dari perbuatan kita sendiri.
Adab makan : Ajari anak untuk makan dengan tangan kanan ketika mereka
telah dapat memegang makanan sendiri dan ketika mereka sudah mulai dapat
menggunakan sendok. Jangan lupa untuk selalu mengingatkannya agar mengucapkan
“bismillah” setiap kali ia hendak makan, dan mengucapkan “alhamdulillah”
setelah selesai makan. Tanamkan padanya bahwa makan yang baik adalah dengan
cara duduk dan tidak sambil berlarian. Dan secara bertahap, Anda bisa
menanamkan pada mereka penghargaan terhadap makanan, yakni tidak mencela
makanan yang tidak mereka sukai, dan mau makan apa adanya tanpa memilih-milih
sesuai dengan apa yang mereka mau.
Adab sopan santun : Berkata-kata yang baik harus selalu dicontohkan pada anak.
Misalnya, mengucapkan salam saat hendak masuk rumah atau bepergian, mengucapkan
“tolong” saat membutuhkan bantuan Anda, mengucapkan “terimakasih” setelah ia
mendapatkan sesuatu dari orang lain, tidak merengek-rengek atau menjerit-jerit
jika meminta sesuatu dari Anda, juga tidak menyela atau memotong pembicaraan
orangtua.
Ajarkan anak untuk tidak suka
meminta-minta pada temannya, tapi dorong mereka untuk suka memberi dan berbagi
pada teman-temannya. Kapan saja seorang anak terbiasa meminta-minta, maka hal
ini akan menjadi watak baginya. Namun, bila anak sejak dini kita ajari untuk
suka berbagi, kelak mereka akan sangat mudah menolong orang lain dan tidak
pelit.
Bagi para ayah, meneladani untuk
shalat berjama’ah di masjid itu wajib hukumnya. Agar anak-anak laki-laki juga
terbiasa shalat dan mengikuti ayahnya untuk shalat di masjid. Hindari merokok,
karena selain dapat mengganggu kesehatan Anda dan anak-anak Anda, mereka pun
dapat meniru kebiasaan jelek ini di masa depan. Dan itu sama saja dengan
merusak kehidupan mereka sendiri dengan menjadi pecandu rokok.
Tanamkan kejujuran, dan jangan
pernah berbohong pada anak meski dengan dalih pura-pura atau berbohong demi
kebaikan. Bahkan kebohongan kecil seperti menjanji-janjikan sesuatu yang tidak
akan pernah Anda tunaikan, atau berbohong untuk mengalihkan perhatiannya, itu
pun seharusnya dihindari. Selain itu, jangan pernah meminta anak untuk
melakukan kebohongan untuk Anda.
Yang sering kali kita tidak sadari,
kita sering kali “berbohong” untuk mengalihkan perhatian si kecil saat mereka
rewel. Misalnya, “lihat ada cicak!” padahal sesungguhnya tidak ada cicak. Atau
menjanjikan “nanti kita beli es krim”, padahal Anda tidak bermaksud
membelikannya. Atau yang parah, kita kadang meminta anak untuk berbohong,
misalnya “kalau ada tamu datang, bilang bunda pergi” ketika Anda tidak sedang
ingin bertemu dengan penagih hutang atau tetangga yang tidak Anda sukai. Atau
“jangan bilang-bilang bunda kalau ayah tadi beli rokok ya”, dsb.
Hindari pertengkaran orangtua di
hadapan anak. Selain mengguncang jiwa anak, hal ini juga memancing ego anak
untuk mengadu domba orangtua karena ketidakkonsistenan mereka berdua demi
mendapatkan apa yang mereka inginkan dari kita.
Yang juga tidak boleh dilupakan
adalah bagaimana kita sebagai orangtua memilih teman dalam bergaul dan
memasukkan teman kita ke dalam rumah. Ketika seorang ibu memasukkan temannya
yang suka menggunjing dan mencela, atau ayah memasukkan temannya yang suka
merokok dan tidak berakhlak, maka hal ini pun bisa menjadi contoh secara
langsung. Bagaimana pun, anak kita melihat dan mendengar.
Sekali lagi, anak-anak itu belajar
dari bagaimana orangtuanya bertingkah laku dan beradab. Ketika kita bisa
menjadi teladan yang baik bagi anak, maka insya Allah keteladanan itu dapat
tertanam kuat dalam diri mereka dan akan menjadi pedoman dalam hidup mereka
setelah dewasa. Namun, bila kita tidak bisa memberikan contoh yang baik,
jangan pernah berharap bahwa anak-anak kita bisa memiliki adab dan akhlak yang
baik pula.


No comments:
Post a Comment