Banyak diantara kita menganggap
bahwa anak aktif dan hiperaktif itu sama. Sama-sama banyak bergerak dan tidak
mau diam. Tapi apakah bunda tau bahwa keduanya itu berbeda? Lalu apa yang
manjadikannya beda?
Dalam artikel ini, kita akan
membahas tentang perbedaan antara anak aktif dan anak hiperaktif. Lalu anak
bunda termasuk yang mana?
Sekilas terlihat aktifitas anak yang aktif dan hiperaktif memang sama
namun kalau kita mau lihat lebih dalam, perbedaannya jelas sekali. Menurut Niki
N. Fitri K.W (psikolog), berikut ciri-ciri yang membedakannya:

Anak Bunda Termasuk Aktif Atau Hiperaktif?

Ciri-ciri anak aktif yaitu:
1. Anak aktif mampu memfokuskan perhatian dengan baik.
2. Anak aktif masih bisa diberitahu dan mau mematuhi dengan baik.
3. Anak aktif biasanya lebih kreatif bisa menciptakan permainan baru yang
kadang tak pernah kita duga.
4. Lebih sabar.
5. Sadar bila lelah.
6. Memiliki intelegensi yang tinggi. Biasanya anak aktif cenderung cerdas dan lebih
mandiri.
Dan ciri-ciri anak Hiperaktif yaitu:
1. Tidak fokus, anak hiperaktif biasanya tidak bisa bertahan untuk sebuah
permainan lebih dari 5 menit.
2. Melawan, anak hiperaktif sulit untuk diberitahu dan akan terus
melakukan aktifitas sesuka hatinya. Biasanya ia akan berontak dan melawan.
3. Merusak, anak hiperaktif cenderung merusak. Dalam permainan, ia akan lebih
suka membongkar mainan dan memainkannya dengan caranya sendiri.
4. Tidak mudah lelah dan tanpa tujuan, anak tidak pernah lelah dan semua
aktifitasnya lebih bayak tanpa tujuan jelas.
5. Tidak sabar dan cenderung agresif, anak hiperaktif tidak mau menunggu dan
sering merebut benda yang dipegang temannya. Ia juga cenderung agresif terhadap
teman bermainnya. contoh anak hiperaktif tiba-tiba memukul tanpa sebab dan ia
cuek setelahnya.
6. Intelegensi rendah, anak hiperaktif kurang kreatif karena kecerdasannya
cenderung dibawah anak-anak normal.
Terlihat jelas kan perbedaannya? Makanya jangan terburu-buru mengatakan
apalagi melabelkan anak bunda sebagai anak yang hiperaktif.
Nah,
setelah tahu bahwa anak kita termasuk anak aktif. Apa yang bisa kita
lakukan?
Memiliki
anak aktif tidak perlu membuat para orangtua pusing. Saatnya kita mengetahui
trik menghadapi anak aktif agar ia bisa tumbuh menjadi anak berkualitas.
Cara menghadapi anak aktif agar
tumbuh menjadi anak yang berkualitas:
1.
Mintalah ia untuk memimpin sesuatu. Buat kerangka kegiatan beserta aturannya
sebelum kegiatan dimulai. Dengan demikian, energi yang berlimpah dapat mengalir
dengan leluasa tanpa membawanya ke suatu masalah.
2.
Pada anak aktif, dia sangat perlu merasakan bahwa dirinya dibutuhkan dan dapat
dipercaya. Oleh karena itu, untuk menyalurkan energinya maka orangtua dapat
memberikannya suatu tugas seperti membersihkan tempat tidur atau mencuci
sepedanya. Katakan kepadanya bahwa orangtua percaya bahwa ia dapat melakukannya
dengan baik. Jika anak berhasil menjalankan sesuatu dengan baik, jangan lupa
memberi pujian atas prestasi atau kesuksesannya tersebut.
3.
Jika dia berbuat salah, maka maafkanlah. Anak aktif biasanya mempunyai
kecenderungan lebih banyak melakukan kesalahan. Dan dia belajar tentang dirinya
dari kesalahan.
4.
Jangan memberi label anak nakal kepada si kecil yang aktif. Karena akan
terdengar sangat negatif dan memojokan anak.
Menurut
Dr. Marilyn Heins, MD, dokter anak dan penulis buku “Parent Tips” dari Amerika
Serikat, perilaku aktif anak-anak usia batita yang tak mau diam ini, normal.
Rentang perhatian anak usia ini pendek. Namun bila ia menjadi terlalu aktif,
bisa jadi karena pola asuh orangtua yang berlebihan memberikan perhatian dan
stimulasi.
Di
lain pihak, ibu dan ayah jarang membiarkan anak mengerjakan sesuatu dan
memecahkan masalah sendiri. Menurut Heins, orangtua jenis ini termasuk tipe
overparenting. Apa yang perlu orangtua lakukan?
1.
Lakukan kegiatan yang seru setiap hari bersamanya dan pikirkan kegiatan
kreatif. Jangan-jangan anak tidak mau diam karena ia bosan dengan kegiatan yang
itu-itu saja. Ajak anak berlari di halaman, menari, mengikuti tingkah tokoh
Tiger di televisi yang senang melompat-lompat.
2.
Izinkan anak membantu pekerjaan rumah tangga. Tidak apa-apa bila ia merebut
sapu menyapu lantai atau sibuk mengelap meja bisa membuatnya tenang.
3.
Perhatikan mainan yang dapat membuat anak duduk tenang dan fokus. Apakah ia
senang memakaikan baju boneka, menyisir rambut boneka dan sebagainya.
4.
Melihat anak tampak sangat aktif, Bunda bisa mengatakan, “Sayang…, coba diam
sebentar Nak.”
5.
Jika anak memang tak mau diam, biarkan saja. Yang penting awasi dia agar tidak
menyentuh barang-barang berbahaya, misal barang pecah belah, stop kontak dan
lain lain.
6.
Waktu Main, Waktu Istirahat. Kenalkan anak kegiatan menyalurkan energi dan
waktu untuk beristirahat. Jenuh bermain di dalam rumah, lakukan kegiatan
outdoor: bersepeda, main ayunan, perosotan dan sepak bola. Saat bermain tetap
memperhatikan aturan keamanan.
7.
Temukan kegiatan yang anak sukai dan bisa membuatnya lelah. - Anak suka
memanjat kursi, biarkan ia naik-turun kursi dengan pengawasan Bunda dan
pastikan kursinya kuat dinaiki anak. - Ajak anak berenang, ke playground
atau main bola di lapangan bola sekali seminggu.
8.
Menyediakan sarana bermain outdoor seperti kolam renang plastik, kotak berisi
pasir, mainan yang bisa ditumpuk seperti balok-balok bola dan sebagainya.
9.
Juga hal lain, misalnya kolam, parit. Sudah selayaknya kita yang tertib dan
waspada, beri pagar untuk kolam, dll. Sering juga membaca berita anak kecil
masuk kolam tak tertolong jiwanya. Selain kita yang waspada, anak-anak
tetap harus diberi tahu bahwa itu berbahaya.
Lalu
bagaimana jika anak bunda termasuk hiperaktif? Apa yang bisa kita lakukan?
1.
Bunda bisa membawa anak untuk terapi
perilaku ke psikiater anak untuk membantunya mengontrol sikap hiperaktifnya.
Bila bimbingan dan terapi tidak berhasil, maka anak bisa mulai mengkonsumsi
obat sehingga kondisi hiperaktifnya bisa berkurang.
2.
Bunda sebaiknya lebih banyak
meluangkan waktu dengan anak untuk dapat melakukan aktivitas dengan cara yang
tenang dan melatih konsentrasinya, misal dengan membantu anak menyusun puzzle
sampai selesai atau membantu mewarnai gambar.
3.
Cara lain melatih konsentrasinya
adalah dengan memberikan beberapa mainan kepadanya dan minta anak untuk
mengingatnya. Minta anak untuk menutup matanya dan ambil salah satu mainan lalu
sembunyikan dari anak. Persilahkan anak untuk membuka matanya dan mengatakan
mainan apa yang Bunda sembunyikan darinya.
4.
Berikan anak banyak kegiatan yang
dapat melatihnya untuk disiplin, fokus dan dapat meningkatkan kemampuan
bersosialisasinya dengan mengenali bakat dan minat anak. Libatkan anak pada
aktivitas setelah sekolah sesuai bakat dan bidang yang diminatinya sebagai
media penyaluran energinya yang berlebihan. Misalnya, les musik atau olahraga
seperti berenang dan bermain bola. Bermain dalam grup sangat baik untuk anak
hiperaktif guna meningkatkan kemampuan bersosialisasinya dengan orang lain.
5.
Ajak anak untuk berbicara dan
pastikan anak mengerti aturan serta konsekuensi dari tingkah lakunya. Berikan
hukuman waktu (satu menit per usia anak) untuk anak merefleksi tindakannya bila
nakal dan berikan pujian atau hadiah bila anak berperilaku baik. Bunda harus
konsisten terhadap aturan yang sudah dibuat.
6.
Ajarkan anak cara mengatur napas
untuk menenangkan dirinya ketika merasa terlalu berenergi, marah dan frustasi.
7.
Bunda sebaiknya menyediakan waktu
untuk rileks bersama anak misalnya dengan mendengar musik yang menenangkan
bersama sambil memberikan pelukan hangat ke anak dan memijatnya agar anak
merasa lebih santai dan tenang. Hal ini bisa dilakukan setelah mandi di sore
hari dan sebelum beranjak tidur.
8.
Ketika melihat anak merusak
mainannya atau berbuat onar, tanyakan baik-baik ke anak alasan ia melakukannya.
Dalam mendisiplinkan anak sebaiknya bunda tidak larut dalam emosi kemarahan
anak. Sebaiknya, Bunda tidak berbicara kasar dengan suara yang keras kepada
anak Bunda, tetapi berbicaralah kepadanya dengan nada yang tenang, ingatkan
aturan yang sudah disepakati dengan anak dengan suara yang tegas. Ingat, Bunda
adalah contoh bagi anak Bunda.

No comments:
Post a Comment