MAINAN ANAK CERDAS

Anak FUN, Bunda Kaya Informasi

LightBlog

Breaking

Thursday, February 9, 2017

Anak Bunda Termasuk Aktif Atau Hiperaktif?

Banyak diantara kita menganggap bahwa anak aktif dan hiperaktif itu sama. Sama-sama banyak bergerak dan tidak mau diam. Tapi apakah bunda tau bahwa keduanya itu berbeda? Lalu apa yang manjadikannya beda?
Dalam artikel ini, kita akan membahas tentang perbedaan antara anak aktif dan anak hiperaktif. Lalu anak bunda termasuk yang mana?

Sekilas terlihat aktifitas anak yang aktif dan hiperaktif memang sama namun kalau kita mau lihat lebih dalam, perbedaannya jelas sekali. Menurut Niki N. Fitri K.W (psikolog), berikut ciri-ciri yang membedakannya:
Anak Bunda Termasuk Aktif Atau Hiperaktif?

Ciri-ciri anak aktif yaitu:
1. Anak aktif mampu memfokuskan perhatian dengan baik.
2. Anak aktif masih bisa diberitahu dan mau mematuhi dengan baik.
3. Anak aktif biasanya lebih kreatif bisa menciptakan permainan baru yang kadang tak pernah kita duga.
4. Lebih sabar.
5. Sadar bila lelah.
6. Memiliki intelegensi yang tinggi. Biasanya anak aktif cenderung cerdas dan lebih mandiri.

Dan ciri-ciri anak Hiperaktif yaitu:
1. Tidak fokus, anak hiperaktif biasanya tidak bisa bertahan untuk sebuah permainan lebih dari 5 menit.
2. Melawan,  anak hiperaktif sulit untuk diberitahu dan akan terus melakukan aktifitas sesuka hatinya. Biasanya ia akan berontak dan melawan.
3. Merusak, anak hiperaktif cenderung merusak. Dalam permainan, ia akan lebih suka membongkar mainan dan memainkannya dengan caranya sendiri.
4. Tidak mudah lelah dan tanpa tujuan, anak tidak pernah lelah dan semua aktifitasnya lebih bayak tanpa tujuan jelas.
5. Tidak sabar dan cenderung agresif, anak hiperaktif tidak mau menunggu dan sering merebut benda yang dipegang temannya. Ia juga cenderung agresif terhadap teman bermainnya. contoh anak hiperaktif tiba-tiba memukul tanpa sebab dan ia cuek setelahnya.
6. Intelegensi rendah, anak hiperaktif kurang kreatif karena kecerdasannya cenderung dibawah anak-anak normal.

Terlihat jelas kan perbedaannya? Makanya jangan terburu-buru mengatakan apalagi melabelkan anak bunda sebagai anak yang hiperaktif.

Nah, setelah tahu bahwa anak kita termasuk anak aktif. Apa yang bisa kita lakukan? 
Memiliki anak aktif tidak perlu membuat para orangtua pusing. Saatnya kita mengetahui trik menghadapi anak aktif agar ia bisa tumbuh menjadi anak berkualitas.
Cara menghadapi anak aktif agar tumbuh menjadi anak yang berkualitas:
1. Mintalah ia untuk memimpin sesuatu. Buat kerangka kegiatan beserta aturannya sebelum kegiatan dimulai. Dengan demikian, energi yang berlimpah dapat mengalir dengan leluasa tanpa membawanya ke suatu masalah. 
2. Pada anak aktif, dia sangat perlu merasakan bahwa dirinya dibutuhkan dan dapat dipercaya. Oleh karena itu, untuk menyalurkan energinya maka orangtua dapat memberikannya suatu tugas seperti membersihkan tempat tidur atau mencuci sepedanya. Katakan kepadanya bahwa orangtua percaya bahwa ia dapat melakukannya dengan baik. Jika anak berhasil menjalankan sesuatu dengan baik, jangan lupa memberi pujian atas prestasi atau kesuksesannya tersebut. 
3. Jika dia berbuat salah, maka maafkanlah. Anak aktif biasanya mempunyai kecenderungan lebih banyak melakukan kesalahan. Dan dia belajar tentang dirinya dari kesalahan. 
4. Jangan memberi label anak nakal kepada si kecil yang aktif. Karena akan terdengar sangat negatif dan memojokan anak. 
Menurut Dr. Marilyn Heins, MD, dokter anak dan penulis buku “Parent Tips” dari Amerika Serikat, perilaku aktif anak-anak usia batita yang tak mau diam ini, normal. Rentang perhatian anak usia ini pendek. Namun bila ia menjadi terlalu aktif, bisa jadi karena pola asuh orangtua yang berlebihan memberikan perhatian dan stimulasi. 
Di lain pihak, ibu dan ayah jarang membiarkan anak mengerjakan sesuatu dan memecahkan masalah sendiri. Menurut Heins, orangtua jenis ini termasuk tipe overparenting. Apa yang perlu orangtua lakukan? 
1. Lakukan kegiatan yang seru setiap hari bersamanya dan pikirkan kegiatan kreatif. Jangan-jangan anak tidak mau diam karena ia bosan dengan kegiatan yang itu-itu saja. Ajak anak berlari di halaman, menari, mengikuti tingkah tokoh Tiger di televisi yang senang melompat-lompat. 
2. Izinkan anak membantu pekerjaan rumah tangga. Tidak apa-apa bila ia merebut sapu menyapu lantai atau sibuk mengelap meja bisa membuatnya tenang. 
3. Perhatikan mainan yang dapat membuat anak duduk tenang dan fokus. Apakah ia senang memakaikan baju boneka, menyisir rambut boneka dan sebagainya. 
4. Melihat anak tampak sangat aktif, Bunda bisa mengatakan, “Sayang…, coba diam sebentar Nak.” 
5. Jika anak memang tak mau diam, biarkan saja. Yang penting awasi dia agar tidak menyentuh barang-barang berbahaya, misal barang pecah belah, stop kontak dan lain lain. 
6. Waktu Main, Waktu Istirahat. Kenalkan anak kegiatan menyalurkan energi dan waktu untuk beristirahat. Jenuh bermain di dalam rumah, lakukan kegiatan outdoor: bersepeda, main ayunan, perosotan dan sepak bola. Saat bermain tetap memperhatikan aturan keamanan. 
7. Temukan kegiatan yang anak sukai dan bisa membuatnya lelah. - Anak suka memanjat kursi, biarkan ia naik-turun kursi dengan pengawasan Bunda dan pastikan kursinya kuat dinaiki anak. - Ajak anak berenang, ke playground atau main bola di lapangan bola sekali seminggu. 
8. Menyediakan sarana bermain outdoor seperti kolam renang plastik, kotak berisi pasir, mainan yang bisa ditumpuk seperti balok-balok bola dan sebagainya. 
9. Juga hal lain, misalnya kolam, parit. Sudah selayaknya kita yang tertib dan waspada, beri pagar untuk kolam, dll. Sering juga membaca berita anak kecil masuk kolam tak tertolong jiwanya. Selain kita yang waspada, anak-anak tetap harus diberi tahu bahwa itu berbahaya.
Lalu bagaimana jika anak bunda termasuk hiperaktif? Apa yang bisa kita lakukan?
1.    Bunda bisa membawa anak untuk terapi perilaku ke psikiater anak untuk membantunya mengontrol sikap hiperaktifnya. Bila bimbingan dan terapi tidak berhasil, maka anak bisa mulai mengkonsumsi obat sehingga kondisi hiperaktifnya bisa berkurang.
2.    Bunda sebaiknya lebih banyak meluangkan waktu dengan anak untuk dapat melakukan aktivitas dengan cara yang tenang dan melatih konsentrasinya, misal dengan membantu anak menyusun puzzle sampai selesai atau membantu mewarnai gambar.
3.    Cara lain melatih konsentrasinya adalah dengan memberikan beberapa mainan kepadanya dan minta anak untuk mengingatnya. Minta anak untuk menutup matanya dan ambil salah satu mainan lalu sembunyikan dari anak. Persilahkan anak untuk membuka matanya dan mengatakan mainan apa yang Bunda sembunyikan darinya.
4.    Berikan anak banyak kegiatan yang dapat melatihnya untuk disiplin, fokus dan dapat meningkatkan kemampuan bersosialisasinya dengan mengenali bakat dan minat anak. Libatkan anak pada aktivitas setelah sekolah sesuai bakat dan bidang yang diminatinya sebagai media penyaluran energinya yang berlebihan. Misalnya, les musik atau olahraga seperti berenang dan bermain bola. Bermain dalam grup sangat baik untuk anak hiperaktif guna meningkatkan kemampuan bersosialisasinya dengan orang lain.
5.    Ajak anak untuk berbicara dan pastikan anak mengerti aturan serta konsekuensi dari tingkah lakunya. Berikan hukuman waktu (satu menit per usia anak) untuk anak merefleksi tindakannya bila nakal dan berikan pujian atau hadiah bila anak berperilaku baik. Bunda harus konsisten terhadap aturan yang sudah dibuat.
6.    Ajarkan anak cara mengatur napas untuk menenangkan dirinya ketika merasa terlalu berenergi, marah dan frustasi.
7.    Bunda sebaiknya menyediakan waktu untuk rileks bersama anak misalnya dengan mendengar musik yang menenangkan bersama sambil memberikan pelukan hangat ke anak dan memijatnya agar anak merasa lebih santai dan tenang. Hal ini bisa dilakukan setelah mandi di sore hari dan sebelum beranjak tidur.
8.    Ketika melihat anak merusak mainannya atau berbuat onar, tanyakan baik-baik ke anak alasan ia melakukannya. Dalam mendisiplinkan anak sebaiknya bunda tidak larut dalam emosi kemarahan anak. Sebaiknya, Bunda tidak berbicara kasar dengan suara yang keras kepada anak Bunda, tetapi berbicaralah kepadanya dengan nada yang tenang, ingatkan aturan yang sudah disepakati dengan anak dengan suara yang tegas. Ingat, Bunda adalah contoh bagi anak Bunda.


No comments:

Post a Comment

Search This Blog

Featured Post

Pasir Kinetik Bandung, Mainan Anak Cerdas