Organisasi
Kesehatan Dunia (WHO) menjelaskan bayi kurus adalah kondisi di mana bayi lahir
dengan berat badan rendah (kurang dari 2500 gram). Suatu studi mengungkapkan
bahwa lebih dari 20 juta bayi di seluruh dunia lahir dengan kondisi kurus, dan
jumlah kasus bayi kurus di Indonesia masih tergolong tinggi. Bagaimana bisa
terjadi?? Apa penyebabnya??
1.
Usia ibu saat hamil
Usia
ibu saat hamil mampu menggambarkan kondisi kesiapan sistem reproduksinya untuk
menanggung beban tambahan dalam tubuhnya (berat si janin). Jika dilihat dari
sisi psikologis, usia ibu hamil yang
cukup (usia 20-35 tahun) akan lebih memperhatikan perawatan yang harus dilakukan
agar melahirkan bayi yang sehat.
2.
Pendidikan ibu
Meskipun
berpengaruh secara tidak langsung, namun sering kali semakin tinggi tingkat
pendidikan seorang calon ibu, semakin banyak informasi yang akan didapatkan
untuk mempersiapkan kehamilannya agar kelak melahirkan bayi yang sehat.
3.
Usia kehamilan saat melahirkan (prematur)
Dijelaskan
dalam Nutrition Policy Paper, usia kehamilan yang kurang dari 37 minggu
meningkatan potensi penyebab bayi kurus. Hal ini dikarenakan semakin pendek
usia kehamilan seorang ibu, maka semakin singkat masa pertumbuhan janin
tersebut dalam kandungan. Sehingga menyebabkan janin tumbuh kurang sempurna.
4.
Status gizi ibu
Suatu
penelitian di Jawa Barat mengungkapkan bahwa ibu hamil dengan Lingkar Lengan
Atas (sering kali dijadikan indikator gizi seseorang) kurang dari 23,5 cm
berisiko 2 kali lebih besar untuk melahirkan bayi kurus, jika dibandingkan
dengan ibu hamil yang Lingkar Lengan Atasnya lebih dari 23,5 cm (batas normal).
Hal tersebut juga berlaku untuk ibu sebelum hamil. Penelitian lain
mengungkapkan bahwa ibu dengan Lingkar Lengan Atas yang kurang dari batas
normal sebelum hamil, berisiko 4 kali lebih besar akan melahirkan bayi kurus.
5.
Jenis kelamin. Suatu penelitian di Sri Lanka mengungkapkan bahwa berat badan
bayi laki-laki 58 gram lebih berat ketimbang berat badan bayi perempuan.
Beberapa kali hal ini mulai tampak pada kehamilan berusia 24 minggu.
Apa bahayanya kalau
bayi kurus?
Berat
bayi lahir adalah fase yang penting bagi seorang bayi. Fase ini merupakan
faktor penentu pertumbuhannya selanjutnya. Secara tidak langsung, kondisi bayi
saat lahir kurus akan berdampak sebagai berikut:
1.
Apabila tidak meninggal pada awal kelahiran, bayi kurus akan memiliki risiko
tumbuh dan berkembang lebih lambat dibandingkan dengan bayi yang lahir dengan
berat badan normal.
2.
Seseorang dengan riwayat bayi kurus akan mempunyai faktor risiko tinggi untuk
terjadinya hipertensi, penyakit jantung dan diabetes setelah mencapai usia 40
tahun.
3.
Bayi kurus mempunyai daya tahan tubuh yang rendah, sehingga mudah terkena
infeksi dan berisiko 17 kali lebih tinggi dari bayi normal untuk meninggal
sebelum usia 1 tahun.
4.
Tingkat kecerdasan bayi kurus akan lebih rendah karena adanya gangguan pada
tumbuh kembang otak sejak dalam kandungan.
Apa yang dapat
dilakukan jika ibu berpotensi memiliki bayi kurus?
Guna
menghindari risiko pada kehamilan dan persalinan, seorang ibu diwajibkan untuk
melakukan kunjungan antenatal (antenatal
care) secara lengkap dan berkualitas sebanyak minimal 4 kali, serta
memeriksakan diri ke dokter minimal 1 kali untuk mendeteksi ada tidaknya
kelainan medis lain. Hal-hal tersebut juga tentu berlaku bagi ibu yang
berpotensi akan melahirkan bayi kurus. Kunjungan-kunjungan tersebut antara lain
terdiri dari:
1.
Kunjungan sebelum minggu ke-16 minimal sebanyak 1 kali
2.
Kunjungan antara minggu ke 24-28 minimal sebanyak 1 kali
3.
Kunjungan antara minggu ke 30-32 minimal sebanyak 1 kali
4.
Kunjungan antara minggu ke 36-38 minimal sebanyak 1 kali.

No comments:
Post a Comment