MENGAPA ANAK USIA DINI MEMBUTUHKAN STIMULASI UNTUK PERKEMBANGANNYA?
Semakin banyak koneksi atau sambungan
yang terbentuk pada otak si Kecil, semakin besar kemungkinannya untuk mencapai
tingkat kecerdasan optimal. Untuk bisa membentuk koneksi-koneksi tersebut, otak membutuhkan rangsang atau stimulasi yang
tepat.
Pertumbuhan otak sangat penting bagi
perkembangan fisik, kognitif, dan emosional seorang anak. Dalam buku Human
Development karya Diane E. Papalia dkk,
2008 disebutkan, saat lahir,
berat otak si Kecil hanya 25 persen dari berat akhirnya di periode
dewasa. Otak orang dewasa, beratnya berkisar antara 1.300-1.400 gram. Di usia 1
tahun, 70 persen dari berat akhir tersebut
sudah tercapai, dan hampir 90 persennya tercapai di usia 3 tahun.
Alhasil, pada usia 6 tahun, ukuran otak anak hampir sebesar otak orang dewasa.
Masih dari buku yang sama, Human
Development, dikatakan, neuron berasal dari inti sel yang terdiri atas DA
(deoxyribonucleic acid) dengan muatan program genetik sel. Seiring dengan
pertumbuhan otak, sel dasar ini menumbuhkan cabang yang disebut axon dan
dendrites-narrow. Akson berfungsi mengirim sinyal ke neuron lain, sedangkan
dendrit menerima pesan yang masuk dari neuron lain melalui sinaps, yaitu
jaringan komunikasi saraf.
Pada masa awal, otak akan memproduksi
neuron dan sinaps lebih banyak daripada yang dibutuhkan. Yang tidak digunakan
atau tidak berfungsi lantas akan mati dengan sendirinya. Proses kematian atau
gugurnya sel yang berlebih itu dimulai sejak periode sebelum si Kecil lahir dan
terus berlangsung setelah kelahirannya. Tujuan dari pengguguran neuron ini sebetulnya
adalah untuk membantu menciptakan sistem saraf yang efisien. Jumlah
sinaps mencapai puncak pada usia 2
tahun, dan proses pengguguran terus berlanjut hingga usia dewasa.
Untuk bisa membentuk sinaps, otak si Kecil harus aktif digunakan dengan
cara memberinya rangsang atau stimulasi yang pas sesuai usia. Mengapa? Karena
pertumbuhan sel otak tidaklah serentak, bagian yang berbeda dari otak tumbuh
dengan pesat pada waktu yang berbeda pula. Semakin banyak sambungan yang
terbentuk di otak, semakin efisien cara kerja sistem sarafnya. Karena itu,
stimulasi sangat penting bagi si Kecil agar kemampuan otaknya semakin
berkembang dan mencapai tingkat kecerdasan optimal sesuai potensi genetiknya.
Menurut psikolog perkembangan anak,
Gisella Tani Pratiwi, MPsi, Psi, perkembangan otak yang optimal ini sangat
berkaitan dengan tercapainya tonggak-tonggak perkembangan atau milestones.
Perlu diketahui, perkembangan anak sejatinya mencakup kemampuan sensori
(indrawi), motorik (kontrol gerak), sosial-emosi dan kognisi (mental). “Tanpa
stimulasi, sambungan-sambungan antarsel saraf pusat atau otak tidak akan
terbentuk, bahkan mengalami penyusutan. Dengan kata lain, peningkatan
inteligensi dan pencapaian tonggak-tonggak perkembangan akan sangat terhambat,”
ujarnya.
“Jika tonggak-tonggak itu tidak
tercapai, potensi anak tidak akan tergali dan terkembangkan secara optimal.
Bahkan jika stimulasi benar-benar minim karena berbagai alasan, anak bisa
memiliki tingkat intelegensi yang rendah. Akibatnya, si Kecil kurang memiliki kemampuan
memecahkan masalah dan berpikir logis. Ia juga akan kurang mampu berkomunikasi
dengan baik karena kemampuan verbalnya rendah. Kondisi ini bisa mengganggu
proses belajar serta kemampuan bersosialisasinya,” tambah Gisella.
Melihat betapa pentingnya stimulasi,
Bunda perlu mengusahakan untuk rajin memberikannya sesuai usia si Kecil.
Kesesuaian usia sangatlah penting mengingat setiap tahapannya menampilkan ciri
perkembangan berbeda. Pada tahapan usia 1-3 dan 3-5 yang merupakan periode emas
perkembangan manusia, menurut Elizabeth B. Hurlock dalam buku Psychology
Development, 2002, akan muncul beberapa karakter khas dari kemampuan bahasa dan
sosial-emosi yang harus diasah, yaitu:
1. Berkembangnya konsep diri. Secara perlahan pemahamannya tentang
kehidupan berkembang. Saat ini anak mulai menyadari akan diri dan identitasnya.
Karena itulah dia ingin keberadaannya diakui, ingin mencoba segalanya, merasa
dirinya bisa melakukan apa saja, namun di sisi lain masih ingin disayang-sayang
dan dibantu oleh orangtuanya.
Perkembangan konsep diri berawal dari
pengenalan identitas pribadi, yaitu nama, jenis kelamin, usia, ditambah
penerimaan lingkungan terhadap dirinya terutama kualitas hubungan dengan
orang-orang terdekatnya. Di sini anak bisa menerima dirinya dan memahami bahwa
ia memiliki kemampuan untuk dapat melakukan banyak hal jika ia merasa diterima
dan dipahami oleh lingkungan. Sebab itulah, peran orangtua sangat besar,
terutama dalam memberikan stimulasi dan menyediakan lingkungan yang kondusif
agar anak dapat mengembangkan konsep diri yang positif.
2. Egosentris. Anak berpikir bahwa
segala yang ada dan tersedia adalah untuk dirinya, Semuanya ada untuk memenuhi
kebutuhannya. Kuatnya egosentrisme memengaruhi perilaku anak dalam
bersosialisasi. Ia enggan untuk meminjamkan mainanannya kepada teman, juga
menolak mengembalikan mainan yang dipinjamnya dari teman. Akibatnya sering
muncul konflik saat anak berada di area bermain bersama anak-anak lain.
Uniknya, pada saat mengalami konflik anak belum bisa menyelesaikannya secara
efektif, ia cenderung menghindar dan menyalahkan orang lain, atau bahkan
melawan.
Pada usia ini, anak memang belum
mampu melihat beberapa perspektif dalam menyelesaikan persoalan. Mereka hanya
bisa memahami dari sisi dirinya sendiri. Tapi harus diingat, egosentrisme ini
adalah salah satu tanda perkembangan. Jadi, pada setiap anak kemampuan ini
harus muncul.
Sikap orang-orang yang berada di
lingkungan berperan sangat penting untuk bisa memainkan dua peran. Pertama,
memahami bahwa perilaku egosentris merupakan tanda perkembangannya. Kedua,
menstimulasi anak untuk dapat memahami sudut pandang yang lain dengan
memberikan contoh nyata. Misalnya, ketika anak mendesak untuk minta dibuatkan
susu sekarang juga, sementara orangtua sedang sibuk melakukan sesuatu yang
tidak dapat ditunda, berikan pengertian pada anak bahwa ia dapat menunggu
sampai Ayah atau Bunda selesai. Tak cukup hanya mengatakan, “Sebentar.”
3. Rasa ingin tahu yang tinggi.
Meliputi berbagai hal, antara lain fenomena alam yang dilihatnya sehari-hari,
seperti dari mana datangnya hujan, mengapa muncul halilintar yang suaranya
menggelegar, atau mengapa ada siang ada malam. Anak pun mulai tertarik
mengeksplorasi tubuhnya sendiri dan dari mana asal usul keberadaannya. Jangan
abaikan pertanyaan anak apalagi menganggapnya cerewet. Tanggapan negatif kita
akan mematikan semangatnya untuk bertanya dan mencari tahu. Jadi, tanggapilah
dengan jawaban yang logis dan ilmiah sesuai pemahaman anak. Kalau Bunda belum
bisa menjawab pertanyaan si Kecil, katakan padanya untuk bersama-sama mencari
jawaban di buku atau sumber lain yang terpercaya.
4. Imajinasi yang tinggi. Imajinasi
di usia ini sangat mendominasi setiap perilaku anak, sehingga ia sulit
membedakan mana khayalan dan mana kenyataan. Bahkan, kadang-kadang ia suka
melebih-lebihkan ceritanya. Daya imajinasi inilah yang membuat si Kecil bicara
sendiri ketika memainkan mainannya atau menciptakan teman imajiner (teman
khayalan). Anak-anak yang memiliki teman
imajiner umumnya memiliki kemampuan verbal yang relatif lebih tinggi
dibandingkan anak sebayanya. Respons lingkungan yang positif dan stimulasi akan
sangat membantu anak untuk mengembangkan imajinasi dan perilaku positif.
Dalam hal kemampuan fisik-motorik, di
usia 1 hingga 2 tahun muncul kemampuan berjalan pada si Kecil yang membuat
jangkauan eksplorasinya menjadi luas. Bunda perlu membiarkannya bereksplorasi
sebagai upaya menstimulasi, tetapi harus tetap dengan aturan. Misalnya, tak boleh menendang barang selain bola; bermain
bola tidak di dalam rumah. Memasuki usia 3 hingga 5 tahun, si Kecil akan
semakin memiliki kemampuan yang baik pada motorik kasar serta halusnya. “Ia
akan semakin kuat secara fisik dan memiliki energi yang banyak untuk bergerak
selain didorong motivasi rasa ingin tahu dan eksplorasi hal-hal sekitar dan
hal-hal baru,” tambah Gisella. Di usia ini motorik halus si Kecil semakin
terlatih. Ia sudah dapat memegang alat tulis dengan baik, sudah mulai dapat
menulis dengan angka dan mewarnai dengan bidang yang besar. Jari jemarinya juga
mulai menguasai untuk memegang benda kecil.
Kegemaran si Kecil bereskplorasi
membuat Bunda perlu mencari cara-cara kreatif agar ia tetap aman dan bebas
bergerak. Pastikan Bunda bahu-membahu dengan Ayah untuk menemani si Kecil. Ikut
mendampingi anak akan membuatnya banyak belajar, karena si Kecil akan banyak
meniru ucapan dan tindakan orang-orang di sekitarnya. “Berikan aktivitas harian
dan peraturan perilaku yang konsisten pada anak,” tambah psikolog anak yang
akrab disapa Ella ini. Tentunya, paling efektif adalah dengan memberi contoh
dan teladan di hadapan si Kecil. Tambahan lagi, selalu jelaskan kepada si Kecil
alasan dari sebuah aturan; apa akibatnya buat dia kalau dilanggar. Dengan
begitu, si Kecil akan bersikap sesuai harapan tanpa jadi takut bereksplorasi.

No comments:
Post a Comment