Perkembangan
motorik halus sudah diawali sejak dini saat bayi mulai dapat memegang dan meraba.
Ketrampilan motorik halus dipengaruhi oleh kematangan otot dan kematangan
saraf. Oleh sebab itu dapat dikatakan bahwa sesederhanapun setiap gerakan yang
dilakukan anak merupakan hasil interaksi yang kompleks dari berbagai bagian
tubuh dan sistem yang dikontrol oleh otak. Motorik halus ini nampak begitu
pesat perkembangannya setelah usia 3 tahun (masing-masing anak tidak selalu
sama laju perkembangannya). Biasanya kemampuan ini akan nampak nyata apabila
anak sudah menguasai sebagian besar gerak motorik kasar.
Walaupun
perkembangan motorik halus berkembang sejalan dengan perkembangan saraf dan
otot, namun perkembangan motorik halus ini tidak serta merta bisa terjadi
begitu saja, tanpa ada proses pembelajaran dan latihan. Di sinilah peran kita
sebagai bunda sangat menentukan , karena bunda dapat menciptakan lingkungan dan
suasana yang dapat merangsang tumbuhnya ketrampilan motorik halus ini.
Beberapa yang
dapat dilakukan untuk meningkatkan kemampuan motorik halus:
1. Kesiapan anak
untuk belajar baik secara fisik dan psikologis, disini anak harus disiapkan
untuk fokus. Hal yang dapat dilakukan bunda adalah sebelum berlatih melalui
bermain, ajaklah anak untuk mengenali suatu latihan dan proses belajarnya,
misal dengan kata: "Angel, bunda punya permainan di atas meja, mari kita
lihat", dll. Dengan demikian anak akan tahu kalau dia akan bermain sesuatu
hal, sehingga mereka akan menyiapkan fisik dan mentalnya.
2. Kesempatan
berlatih.
Dalam hal ini,
sangat besar peranan orang tua, karena orang tua harus menyiapkan waktu luang
dan memberi kesempatan anak untuk mempunyai kebebasan. Berilah kepercayaan
kepada anak. Misalnya dengan perkataan: "Angel, bunda lihat kamu sudah
memegang kuasnya, coba sekarang kamu oleskan di kertasnya". Banyak anak
yang tidak mendapat kesempatan ini karena orang tua terlalu protektif, sehingga
kesempatan berlatih tertutup karena orang tua terlalu sayang sehingga takut
anak cedera seperti tertusuk dsb, takut rumah nya kotor, dll.
3. Orang tua
memberikan contoh yang benar.
Peran bunda
sangatlah besar dalam memberi contoh, di sini bunda harus memberi contoh yang
benar dan jangan lupa komunikasikan dengan anak menggunakan bahasa yang
sederhana dan diucapkan dengan bahasa
yang benar. Misalnya bunda memberi contoh makan: "Angel, mari kita makan bersama-sama”
kemudian sendoklah makanan dan makanannya dimasukkan ke mulut, kunyah dan
telan. Ulangi contoh ini berulang-ulang sehingga anak mampu memahami
konsep cara makan.
4. Respon
positif dan motivasi.
Respon positi
sangat berarti bagi anak, respon positif diberikan kepada anak saat dia mampu
melakukan latihan dengan baik. misalnya: "Iya Angel, teruskan mencari
mainannya. Ayo buka kotaknya dan coba temukan mainannya” dll.
5. Setiap
ketrampilan harus dipelajari dengan khusus.
Setiap kemampuan
motorik halus memerlukan kemampuan koordinasi otot-otot kecil dan kematangan
syaraf tersendiri, seperti memegang pensil berbeda dengan kemampuan memegang
sendok atau memegang gunting. Maka bunda wajib melatih satu ketrampilan motorik
halus secara khusus.
6. Cara mempelajari
ketrampilan motorik halus harus satu demi satu. Di sini kesabaran bunda
dituntut, jangan sampai anak dibuat bingung karena diperkenalkan beberapa
ketrampilan sekaligus. Bunda harus melatih ketrampilan satu demi satu, sehingga
anak akan fokus dan mendapatkan pemahaman mengenai kemampuan tersebut dan mahir
melakukan ketrampilan tersebut sebelum berpindah ke ketrampilan yang lain.
Perkembangan motorik halus juga bisa digunakan sebagai salah satu deteksi taraf kecerdasan anak, khususnya di awal usia anak dan di tahun-tahun pertama, ketika anak belum bisa diajak berkomunikasi secara verbal.

No comments:
Post a Comment