![]() |
| Perlukah Membedakan Mainan Anak Laki-Laki Dan Perempuan? |
Anak
dapat belajar mengenal dunia dan belajar bersosialisasi, mengasah kemampuan
berpikir, kemampuan bahasa serta motorisnya melalui bermain. Banyak sekali
maianan atau permainan yang dapat dilakukan oleh anak-anak, contohnya permainan
konstruktif, seperti balok bangunan, lego, atau lainnya. Permainan
semacam ini penting untuk menambah pemahaman tentang ruang, dan konsep bentuk.
Selain itu, ada juga jenis permainan imajinasi yang dapat dilakukan bersama-sama,
Seperti: bermain peran, bermain boneka, dan lain-lain. Permainan semacam ini
akan mengarahkan anak untuk mengasah kepekaan rasa, menyayangi dan menghargai
keberadaan orang lain serta peka terhadap lingkungannya.
Pada
umumnya, orang tua cenderung akan memperlakukan anak laki-laki dan anak
perempuan secara berbeda sejak lahir, seperti mendekor kamar anak dengan
berbeda, memberikkan mainan yang berbeda. Pada sebuah penelitian,
ditunjukkan bahwa anak akan diberi mainan sesuai dengan jenis kelaminnya.
Seorang peneliti dari University of Wollongong, Sydney, Australia, Dr.
Catherine Neilsen-Hewett, menyatakan bahwa anak laki-laki dan anak perempuan
memperlihatkan perbedaan dalam memilih mainan. Anak laki-laki terlihat lebih
aktif bermain dan bergerak, sementara anak perempuan lebih banyak interaksi
lisan dan tidak terlalu banyak bergerak aktivitas. Sementara itu, Professor
Melissa Hines dari Cambridge University berhasil mengidentifikasi
kesenjangan gender dalam preferensi mainan yang digunakan oleh anak laki-laki
maupun anak perempuan.
Terdapat
bukti bahwa otak anak laki-laki didesain untuk mengekspresikan minat awal pada
permainan kasar dan fisik, serta mainan yang bergerak (seperti mobil-mobilan),
bermain di luar ruangan, sedangkan anak perempuan lebih memilih permainan yang
mendorong kreativitas, seperti puzzle, boneka, atau bermain peran. Perbedaan
pemilihan mainan anak berkaitan dengan perbedaan kemampuan motorik antara anak
laki-laki dan perempuan. Beberapa fakta bahwa anak laki-laki berbeda dengan
anak perempuan diuraikan di bawah ini.
- Anak laki-laki lebih dominan
untuk kemampuan motorik, terutama motorik kasarnya. Karenanya, anak
laki-laki lebih menyukai aktivitas fisik dan banyak bergerak, seperti
melompat, memanjat, berlari-lari, dan lain-lain.
- Anak perempuan, lebih dominan
untuk kemampuan motorik halusnya dan kemampuan ini dapat dilatih, misalnya
dengan berlatih makan sendiri. Apabila terus dilatih, bukan tidak mungkin
kemampuan anak perempuan akan melebihi kemampuan anak laki-laki.
Lalu
bagaimana jika anak perempuan justru lebih senang bermain mainan anak
laki-laki, seperti alat-alat pertukangan atau mobil-mobilan atau sebaliknya,
jika anak laki-laki lebih memilih menggendong boneka daripada bermain
mainan-mainan berat, seperti truk pengangkut pasir atau balapan motor?
Pemilihan mainan untuk anak laki-laki atau perempuan sebenarnya tidak akan
menjadi masalah jika usia anak masih antara 0-3 tahun. Pada usia tersebut, anak
hanya membutuhkan stimulasi yang baik dari berbagai jenis mainan untuk
menentukan bakat dan minat anak. Tentunya, mainan yang digunakan harus tepat,
terlepas dari pandangan gender yang menempel pada mainan tersebut. Begitulah
yang dikatakan seorang psikolog anak, Vera Itabiliana Hadiwidjojo.
Fakta
mengungkapkan bahwa membatasi anak bermain berdasarkan gender justru akan
berdampak buruk untuk masa depannya. Alasannya, dengan dibatasinya seorang anak
untuk memainkan maianan tertentu, akan menghambat kreativitas, ketrampilan, dan
bakatnya. Pembedaan mainan bergender untuk anak, misalnya mobil-mobilan khusus
laki-laki dan boneka untuk perempuan, terbukti kurang mendorong perkembangan
kognitif dibandingkan dengan mainan netral. Akibatnya akan terlihat jika anak
sudah besar nanti. Pembatasan mainan begender akan mempengaruhi perilaku anak
di kehidupan nyata saat ia berusia lebih dewasa. Hal ini dapat ditunjukkan
dengan anggapan masyarakat kini tentang sebuah profesi yang hanya dikhususkan
untuk anak laki-laki atau perempuan, misalnya pilot khusus untuk laki-laki,
chef atau juru masak khusus untuk perempuan, pembalap khusus untuk laki-laki,
dan lain-lain.
Menurut
seorang profesor psikologi dari Pennsylvania State University, Sheri
Berenbaum, perbedaan antara anak laki-laki dan perempuan, seperti soal
pemilihan mainan, bukan sekadar karena perbedaan pola, tetapi juga disebabkan
oleh perbedaan pada otak mereka. Saat anak laki-laki maupun perempuan lahir,
otak terus mengambil jalan yang berbeda. Soal pembedaan mainan anak berdasarkan
gender, selain akan bedampak untuk jangka panjang, hal ini juga akan mematikan
kreativitas anak. Padahal dalam usia-usia 1-5 tahun, anak-anak sedang kaya akan
imajinasi dan ide-ide kreatif. Kreativitas anak ini akan muncul dari mana pun.
Maka dari itu, pembatasan mainan anak berdasarkan gender atau jenis kelamin
bukanlah hal yang tepat untuk dilakukan.
Dari
uraian yang dijelaskan diatas dapat disimpulkan bahwa pembatasan mainan yang
diberikan untuk anak yang berjenis kelamin laki-laki maupun perempuan sangat
tidak dianjurkan. Sebab usia 0-5 tahun merupakan masa keemasan anak yang harus
diberikan stimulus apapun agar ia mampu mengembangkan bakat dan minat yang ada
dalam dirinya. Tentu dalam pemberian permainan sebagai stimulus itupun harus
sesuai dengan tahapan perkembangannya. Jadi mulai sekarang hentikan pembatasan
pemberian mainan sesuai gender. Karna pada dasarnya semua mainan memang
diciptakan untuk digunakan oleh anak.


No comments:
Post a Comment