MAINAN ANAK CERDAS

Anak FUN, Bunda Kaya Informasi

LightBlog

Breaking

Monday, March 6, 2017

Perlukah Membedakan Mainan Anak Laki-Laki Dan Perempuan?

Perlukah Membedakan Mainan Anak Laki-Laki Dan Perempuan?
Anak dapat belajar mengenal dunia dan belajar bersosialisasi, mengasah kemampuan berpikir, kemampuan bahasa serta motorisnya melalui bermain. Banyak sekali maianan atau permainan yang dapat dilakukan oleh anak-anak, contohnya permainan konstruktif, seperti  balok bangunan, lego, atau lainnya. Permainan semacam ini penting untuk menambah pemahaman tentang ruang, dan konsep bentuk. Selain itu, ada juga jenis permainan imajinasi yang dapat dilakukan bersama-sama, Seperti: bermain peran, bermain boneka, dan lain-lain. Permainan semacam ini akan mengarahkan anak untuk mengasah kepekaan rasa, menyayangi dan menghargai keberadaan orang lain serta peka terhadap lingkungannya.

Pada umumnya, orang tua cenderung akan memperlakukan anak laki-laki dan anak perempuan secara berbeda sejak lahir, seperti mendekor kamar anak dengan berbeda, memberikkan mainan yang berbeda.  Pada sebuah penelitian, ditunjukkan bahwa anak akan diberi mainan sesuai dengan jenis kelaminnya. Seorang peneliti dari University of Wollongong, Sydney, Australia, Dr. Catherine Neilsen-Hewett, menyatakan bahwa anak laki-laki dan anak perempuan memperlihatkan perbedaan dalam memilih mainan. Anak laki-laki terlihat lebih aktif bermain dan bergerak, sementara anak perempuan lebih banyak interaksi lisan dan tidak terlalu banyak bergerak aktivitas. Sementara itu, Professor Melissa Hines dari Cambridge University berhasil mengidentifikasi kesenjangan gender dalam preferensi mainan yang digunakan oleh anak laki-laki maupun anak perempuan.
Terdapat bukti bahwa otak anak laki-laki didesain untuk mengekspresikan minat awal pada permainan kasar dan fisik, serta mainan yang bergerak (seperti mobil-mobilan), bermain di luar ruangan, sedangkan anak perempuan lebih memilih permainan yang mendorong kreativitas, seperti puzzle, boneka, atau bermain peran. Perbedaan pemilihan mainan anak berkaitan dengan perbedaan kemampuan motorik antara anak laki-laki dan perempuan. Beberapa fakta bahwa anak laki-laki berbeda dengan anak perempuan diuraikan di bawah ini.
  1. Anak laki-laki lebih dominan untuk kemampuan motorik, terutama motorik kasarnya. Karenanya, anak laki-laki lebih menyukai aktivitas fisik dan banyak bergerak, seperti melompat, memanjat, berlari-lari, dan lain-lain.
  2. Anak perempuan, lebih dominan untuk kemampuan motorik halusnya dan kemampuan ini dapat dilatih, misalnya dengan berlatih makan sendiri. Apabila terus dilatih, bukan tidak mungkin kemampuan anak perempuan akan melebihi kemampuan anak laki-laki.
Lalu bagaimana jika anak perempuan justru lebih senang bermain mainan anak laki-laki, seperti alat-alat pertukangan atau mobil-mobilan atau sebaliknya, jika anak laki-laki lebih memilih menggendong boneka daripada bermain mainan-mainan berat, seperti truk pengangkut pasir atau balapan motor? Pemilihan mainan untuk anak laki-laki atau perempuan sebenarnya tidak akan menjadi masalah jika usia anak masih antara 0-3 tahun. Pada usia tersebut, anak hanya membutuhkan stimulasi yang baik dari berbagai jenis mainan untuk menentukan bakat dan minat anak. Tentunya, mainan yang digunakan harus tepat, terlepas dari pandangan gender yang menempel pada mainan tersebut. Begitulah yang dikatakan seorang psikolog anak, Vera Itabiliana Hadiwidjojo.
Fakta mengungkapkan bahwa membatasi anak bermain berdasarkan gender justru akan berdampak buruk untuk masa depannya. Alasannya, dengan dibatasinya seorang anak untuk memainkan maianan tertentu, akan menghambat kreativitas, ketrampilan, dan bakatnya. Pembedaan mainan bergender untuk anak, misalnya mobil-mobilan khusus laki-laki dan boneka untuk perempuan, terbukti kurang mendorong perkembangan kognitif dibandingkan dengan mainan netral. Akibatnya akan terlihat jika anak sudah besar nanti. Pembatasan mainan begender akan mempengaruhi perilaku anak di kehidupan nyata saat ia berusia lebih dewasa. Hal ini dapat ditunjukkan dengan anggapan masyarakat kini tentang sebuah profesi yang hanya dikhususkan untuk anak laki-laki atau perempuan, misalnya pilot khusus untuk laki-laki, chef atau juru masak khusus untuk perempuan, pembalap khusus untuk laki-laki, dan lain-lain.
Menurut seorang profesor psikologi dari Pennsylvania State University, Sheri Berenbaum, perbedaan antara anak laki-laki dan perempuan, seperti soal pemilihan mainan, bukan sekadar karena perbedaan pola, tetapi juga disebabkan oleh perbedaan pada otak mereka. Saat anak laki-laki maupun perempuan lahir, otak terus mengambil jalan yang berbeda. Soal pembedaan mainan anak berdasarkan gender, selain akan bedampak untuk jangka panjang, hal ini juga akan mematikan kreativitas anak. Padahal dalam usia-usia 1-5 tahun, anak-anak sedang kaya akan imajinasi dan ide-ide kreatif. Kreativitas anak ini akan muncul dari mana pun. Maka dari itu, pembatasan mainan anak berdasarkan gender atau jenis kelamin bukanlah hal yang tepat untuk dilakukan.

Dari uraian yang dijelaskan diatas dapat disimpulkan bahwa pembatasan mainan yang diberikan untuk anak yang berjenis kelamin laki-laki maupun perempuan sangat tidak dianjurkan. Sebab usia 0-5 tahun merupakan masa keemasan anak yang harus diberikan stimulus apapun agar ia mampu mengembangkan bakat dan minat yang ada dalam dirinya. Tentu dalam pemberian permainan sebagai stimulus itupun harus sesuai dengan tahapan perkembangannya. Jadi mulai sekarang hentikan pembatasan pemberian mainan sesuai gender. Karna pada dasarnya semua mainan memang diciptakan untuk digunakan oleh anak.

No comments:

Post a Comment

Search This Blog

Featured Post

Pasir Kinetik Bandung, Mainan Anak Cerdas