![]() |
| Gejala, Penyebab dan Cara Mengobati Kolera |
Dari
sekian jenis penyakit yang sring diderita oleh anak, salah satunyaadalah
kolera. Kolera adalah penyakit infeksi akut yang disebabkan karena mengonsumsi
makanan atau minuman yang sudah terkontaminasi dengan bakteri vibrio cholerae
(v. cholerae). Kolera menjadi masalah kesehatan bagi anak-anak di negara-negara
berkembang di dunia, terutama di Afrika, Asia Selatan dan Amerika Latin. Tapi
tidak menutup kemungkinan penyakit ini akan diderita oleh anak di Indonesia.
Sebagian
yang terkena kolera akan mengalami diare dalam jumlah berlebih dan mengalami
dehidrasi hebat hingga menyebabkan kematian. Umumnya anak akan terkena kolera
setelah menelan bakteri vibrio cholerae yang sudah mengontaminasi sumber
makanan atau air yang dikonsumsi oleh penderita. Sekitar 5%-10% dari anak yang
sebelumnya sehat akan mengalami diare hebat dalam waktu sekitar satu sampai
lima jam setelah menelan bakteri vibrio cholerae. Dan dengan adanya artikel ini
adalah untuk mengajak ayah dan bunda untuk selalu waspada terhadap penyakit
yang mungkin bisa terjadi pada si kecil terutama penyakit kolera. Setiap
penyakit tidak akan timbul jika tidak ada gejala/ penyebabnya, oleh karena itu
kita juga harus tau apa saja gejala dan cara mencegah serta mengobatinya dengan
cara yang sesuai.
1.
Gejala dan tanda kolera
Gejala dan tanda kolera adalah diare yang biasanya disertai dengan bintik-bintik putih (lendir dan sel epitel) yang seukuran beras. Volume diare bisa sangat tinggi yaitu bisa 10 sampai 18 liter selama 24 jam. Selain itu, biasanya disertai salah satu atau beberapa gejala berikut:
Gejala dan tanda kolera adalah diare yang biasanya disertai dengan bintik-bintik putih (lendir dan sel epitel) yang seukuran beras. Volume diare bisa sangat tinggi yaitu bisa 10 sampai 18 liter selama 24 jam. Selain itu, biasanya disertai salah satu atau beberapa gejala berikut:
·
Muntah
·
Denyut
nadi cepat
·
Hilangnya
elastisitas kulit
·
Membran
mukosa kering
·
Tekanan
darah turun
·
Haus
·
Kram
otot
·
Gelisah
atau lekas marah (terutama pada anak-anak).
Anak yang terinfeksi memerlukan terapi
rehidrasi segera untuk mencegah penyakit ini berkembang menjadi keadaan serius.
Jika tidak diobati, dehidrasi berat akibat kolera akan menyebabkan shock hingga
kematian. Dehidrasi berat seringkali terjadi pada 4-8 jam setelah diare
pertama, dan pada orang yang tidak diobati akan berakhir dengan kematian dalam
waktu sekitar 18 jam.
2.
Penyebab
kolera
Bakteri vibrio
cholerae biasanya ditemukan pada air kotor atau pasokan air minum yang
terkontaminasi dengan pembuangan kotoran. Kolera jarang sekali ditularkan dari
orang ke orang. Bakteri ini ini akan masuk ke tubuh melalui makanan atau
minuman yang sudah terkontaminasi olehnya. Bakteri vibrio cholerae sering
mengontaminasi:
·
Pasokan
air massal
·
Es
yang terbuat dari sumber air massal
·
Makanan
dan minuman yang diproduksi dengan higiene yang buruk
·
Sayuran
yang tumbuh dengan diairi limbah
·
Kerang
dan ikan mentah dan makanan laut lainnya yang diperoleh dari perairan yang
tercemar limbah.
Bagaimana bakteri vibrio cholerae
mempengaruhi tubuh?
Bakteri vibrio cholerae umumnya sangat sensitif terhadap keberadaan asam di lambung dan saluran pencernaan. Asam lambung akan membunuh sejumlah kecil bakteri sebelum mereka berkembang biak di dalam tubuh. Tapi, ketika bakteri dalam jumlah besar mengeroyok sistem pertahanan alami tubuh, mereka akan tumbuh di usus kecil dan turut keluar melalui kotoran orang yang terinfeksi. Anak yang terinfeksi kolera ringan atau tidak menunjukkan gejalanya terutama bagi mereka yang personal higiene-nya buruk akan menyebarkan infeksi dengan mengontaminasi makanan langung dengan kotoran yang terinfeksi.
Bakteri vibrio cholerae umumnya sangat sensitif terhadap keberadaan asam di lambung dan saluran pencernaan. Asam lambung akan membunuh sejumlah kecil bakteri sebelum mereka berkembang biak di dalam tubuh. Tapi, ketika bakteri dalam jumlah besar mengeroyok sistem pertahanan alami tubuh, mereka akan tumbuh di usus kecil dan turut keluar melalui kotoran orang yang terinfeksi. Anak yang terinfeksi kolera ringan atau tidak menunjukkan gejalanya terutama bagi mereka yang personal higiene-nya buruk akan menyebarkan infeksi dengan mengontaminasi makanan langung dengan kotoran yang terinfeksi.
3.
Mencegah
kolera
Langkah terbaik untuk mencegah kolera adalah:
Langkah terbaik untuk mencegah kolera adalah:
a.
Hanya
menggunakan air yang telah dimasak atau bahan kimia yang didesinfeksi untuk:
·
Minum
atau menyiapkan minuman seperti susu untuk anak
·
Menyikat
gigi
·
Mencuci
wajah dan tangan
·
Mencuci
buah-buahan, sayuran, dan bahan makanan anak sampai bersih
·
Mencuci
peralatan makan anak
·
Mencuci
wadah, kaleng, dan botol-botol yang akan diisi makanan atau minuman.
b.
Menghindari
makan atau minum dari sumber yang tidak diketahui. Setiap makan mentah bisa
terkontaminasi, termasuk:
·
Buah-buahan
dan sayuran
·
Susu
dan produk olahan susu yang tidak dipasteurisasi
·
Daging
mentah
·
Kerang-kerangan
·
Ikan
yang ditangkap dari daerah karang tropis (bukan laut terbuka).
Vaksin kolera tersedia untuk usia
minimal dua tahun, dan telah terbukti aman dan efektif. Menurut WHO, enam bulan
setelah vaksin kolera diberikan, tingkat keberhasilan di semua kelompok usia
adalah 85%-90%, dan menurun menjadi 62% pada orang dewasa dalam waktu satu
tahun.
4.
Pengobatan
kolera
Untuk keadaan diare yang lebih buruk dari biasanya, lebih baik segera minta pertolongan medis daripada mencoba menanganinya sendiri. Segeralah minta pertolongan medis apabila terjadi diare yang terus menerus atau jika terjadi muntah.
Pengobatan untuk kolera akan ditentukan berdasarkan:
Untuk keadaan diare yang lebih buruk dari biasanya, lebih baik segera minta pertolongan medis daripada mencoba menanganinya sendiri. Segeralah minta pertolongan medis apabila terjadi diare yang terus menerus atau jika terjadi muntah.
Pengobatan untuk kolera akan ditentukan berdasarkan:
·
Kesehatan
dan sejarah medis anak
·
Tingkat
keparahan
·
Toleransi
terhadap obat-obatan, prosedur atau terapi tertentu
·
Keluhan
·
Kemungkinan
penyebarannya.
Pengobatan
untuk kolera biasanya melibatkan proses rehidrasi, yaitu dengan:
·
Solusi
rehidrasi melalui oral (oralit).
·
Solusi
rehidrasi dengan intravena (infus) untuk kasus kolera berat.
Rehidrasi yang direkomendasikan WHO
|
Kondisi
Pasien
|
Pengobatan
|
Pedoman;
usia dan berat badan
|
|
Non dehidrasi
|
Oralit
|
Anak-anak < 2
tahun: 50 mL-100 mL, hingga 500 mL/hari
Anak-anak 2-9 tahun: 100 mL-200 mL, hingga 1.000 mL/hari Anak-anak > 9 tahun: sebanyak mungkin, hingga 2.000 mL/hari |
|
Dehidrasi sedang
|
Oralit (dalam 4 jam
pertama)
|
Bayi < 4 bulan
(< 5 kg): 200-400 mL
Bayi 4 bulan-11 bulan (5 kg-7,9 kg): 400-600 mL Anak-anak 1-2 tahun (8 kg-10,9 kg): 600-800 mL Anak-anak 2-4 tahun (11 kg-15,9 kg): 800-1.200 mL Anak-anak 5-14 tahun (16 kg-29,9 kg): 1.200-2.200 mL Pasien > 14 tahun (30 kg atau lebih): 2.200-4.000 mL |
|
Dehidrasi berat
|
IV drip Ringer
Lactate, atau jika tidak tersedia,
oralit seperti uraian diatas |
Usia < 12 bulan:
30 mL/kg dalam satu jam*, kemudian 70 mL/kg selama 5 jam
Usia > 1 tahun: 30 mL/kg dalam 30 menit*, kemudian 70 mL/kg selama dua setengah jam |
* Ulangi sekali lagi jika nadi
masih sangat lemah atau tidak terdeteksi
·
Pantau
terus keadaan anak selama satu sampai dua jam dan terus lakukan rehidrasi. Jika
dengan rehidrasi kondisi tidak membaik, berikan infus. 200 ml/kg atau lebih
mungkin akan dibutuhkan dalam 24 jam pertama.
·
Setelah
enam jam (bayi dan anak-anak) lakukan observasi penuh. Beralih ke oralit jika
rehidrasi berhasil dan pasien dapat minum.
Pengobatan dengan
antiobiotik terkadang juga diterapkan untuk mempercepat durasi penyakit,
meskipun bukan dianggap hal utama untuk keberhasilan pengobatan kolera.
Uraian
diatas merupakan pengertian, penyebab, gejala, cara mencegah dan cara mengobati
penyakit kolera yang terjadi pada anak. Semoga artikel ini bermanfaat bagi ayah
dan bunda dan semoga si kecil terhindar dari penyakit ya ayah bunda. Tetap
selalu jaga kesehatan si kecil dengan cara memberikan makanan yang sehat dan
higienis serta pastikan apapun yang berada di dekat anak adalah bersih dan aman
agar tidak terjadi hal-hal yang buruk kepada buah hati kita. Salam sehat untuk
semua anak Indonesia.


No comments:
Post a Comment