![]() |
| 5 LANGKAH PENTING UNTUK MEMPERBAIKI PERILAKU ANAK |
5 LANGKAH PENTING UNTUK MEMPERBAIKI PERILAKU ANAK
Anak-anak pada dasarnya tidak
membutuhkan waktu yang lama untuk menyadari bahwa mereka bertanggungjawab atas
diri mereka masing-masing. Dan meski kita adalah orangtua, dan mereka tahu itu,
biasanya mereka akan menolak melakukan sesuatu yang tidak mereka inginkan untuk
dilakukan.
Anda tidak perlu kuatir. Karena
tahapan ini adalah tahapan yang alami. Sejak usia 2 tahun, anak-anak mulai
menyadari fungsi tubuh mereka, mulai menyadari keberadaan mereka untuk menjadi
manusia-manusia mandiri. Mereka senang bereksplorasi dan mencoba berbagai hal,
bahkan bila hal tersebut membahayakan.
Perilaku anak-anak ini, terkadang
terkesan bandel atau nakal. Sehingga secara spontan kita akan
mengatakan “kamu
anak nakal” kepada mereka. Wow…sebaiknya kita menahan diri terlebih
dahulu.Sebab, pada dasarnya, tidak ada anak-anak yang ingin menjadi bandel atau
ingin menjadi anak nakal. Namun, kitalah sebagai orangtua yang menciptakan
“pribadi nakal” tersebut dengan “vonis” yang terlalu cepat kita jatuhkan untuk
mereka.
Lalu, bagaimana caranya untuk
memperbaiki perilaku anak-anak ini agar mereka dapat diarahkan menjadi
anak-anak yang berperilaku baik?
1. Belajar mendengarkan. Anak-anak akan mulai berbuat ulah manakala mereka merasa
dicuekin alias tidak mendapatkan perhatian Anda. Dengan berulah, mereka yakin,
meski itu kemarahan Anda, namun mereka mendapatkan perhatian Anda. Nah, mulai
sekarang, belajarlah untuk menjadi pendengar yang baik bagi mereka. Sekonyol
apapun itu. Yang terpenting adalah kita mampu membuat mereka merasa dihargai
dan mampu mengarahkan mereka menjadi lebih baik.
2. Hargai perasaan mereka. Anak-anak adalah anak-anak. Bukan orang dewasa. Mereka
belum mengerti kesusahan-kesusahan atau keadaan sulit yang dihadapi oleh orangtua.
Pemikiran mereka masih terlalu polos, sehingga mereka belum mengerti bagaimana
mereka seharusnya berbuat.
3. Kemukakan pendapat Anda. Meski sebagai orangtua kita memiliki hak untuk
mengatur-ngatur dan memberikan mereka perintah serta larangan, tetapi, ada
baiknya kita mengutarakannya dalam bentuk pendapat. Hal ini lebih bijak,
mengingat anak-anak ini masih berpikiran sangat polos, dan mereka harus belajar
untuk menentukan dan membuat sebuah keputusan yang baik bagi diri mereka
sendiri. Misalnya, ketika anak Anda tidak mau mandi, kita tidak bisa selalu
memarahi dan berteriak-teriak untuk menyuruh mereka mandi. Tapi, coba kemukakan
pendapat kita dengan lebih bersahabat; “Menurut ibu, kamu lebih terlihat
cantik setelah kamu mandi. Dan akan ada banyak teman yang mau bermain denganmu.
Kalau kamu tidak mandi, hmm…ibu pikir teman-temanmu nanti akan menjauhimu dan
tidak mau main denganmu.”
4. Biarkan, namun waspada. Ketika anak-anak mulai bertingkah dan ingin mencoba segala
sesuatunya, bahkan hal-hal yang berbahaya, cobalah sesekali untuk membiarkan
mereka. Biarkan mereka merasakan konsekuensi dari tindakan mereka. Tapi,
tentunya, setelah sebelumnya Anda memberitahukan konsekuensi tersebut.
5. Jadilah tempat kembali dan tempat
bersandar bagi mereka. Meski
mereka melakukan kesalahan, kita sebagai orangtua adalah tempat anak-anak
“kembali” di saat mereka dirundung masalah. Sebagai orangtua, sudah seyogyanya
kita tidak terlalu menghakimi anak sampai anak harus merasa tidak memiliki
siapapun yang mencintai mereka di dunia ini. Ketika mereka melakukan kesalahan,
maka kitalah yang seharusnya mengingatkan, serta membantu mereka untuk
bersama-sama memperbaiki kesalahan tersebut.


No comments:
Post a Comment