![]() |
| HYPER PARENTING EFFECT |
EFEK NEGATIF DARI HYPER PARENTING (ORANGTUA YANG
MEMAKSAKAN KEHENDAK PADA ANAK)
Setiap orangtua tentu menginginkan
hal-hal yang terbaik untuk anak-anak mereka. Orangtua pasti ingin anak-anak
mereka semua sukses di dunia dan di akhirat. Mereka ingin anak-anak-anak mereka
semua dapat hidup bahagia, punya karir mantap, penghasilan yang lebih dari
cukup, perilaku yang baik dan menyenangkan, dan lain sebagainya.
Sayangnya, tidak semua orangtua
memahami bahwa masing-masing anak memiliki kepribadian, karakter, bahkan juga
impian dan cita-cita. Sering kali kita sebagai orangtua memaksakan kehendak
kita kepada
anak-anak tanpa menimbang kemampuan, kesiapan, dan perasaan
anak-anak dengan dalih karena kita ingin anak-anak kita mendapatkan yang
terbaik untuk kehidupan mereka.
Kita tidak boleh menjadi orangtua
yang hyper parenting, yaitu orangtua yang memaksakan kehendaknya kepada
anak-anak mereka untuk mewujudkan keinginan kita sebagai orangtua. Bahkan meski
itu untuk tujuan mengembangkan kemampuan dan mewujudkan kehidupan yang baik
bagi mereka.
Tidak bisa dipungkiri juga, bahwa
orangtua yang menerapkan pola asuh demikian (hyper parenting) biasanya
mengalami masa kecil yang hampir sama. Atau, biasanya juga terjadi pada
orangtua yang merasa tidak puas dengan karir atau segala hal yang mereka
peroleh, sehingga mereka melampiaskannya pada anak-anak mereka.
Sebenarnya, wajar saja jika orangtua
berharap anak-anak mereka dapat mewujudkan keinginan mereka. Tapi, kita pun
perlu tahu bahwa memaksakan kehendak bukanlah jalan yang terbaik untuk
menyelesaikan masalah. Ada dampak yang bisa menjadi sangat fatal bagi
anak-anak, yaitu dapat menghambat pertumbuhannya, juga dapat menimbulkan
kemarahan yang berlebihan dikarenakan anak-anak merasa tidak memiliki kebebasan
untuk memilih atau melakukan keinginannya sendiri.
Padahal, pada dasarnya, setiap
anak-anak memiliki jiwa yang bebas dan ingin bebas. Anak-anak juga dapat
berkembang dengan baik karena mereka memiliki kebebasan untuk bereksplorasi,
berpendapat, juga merasa bahagia. Proses ini harus mereka lalui dalam kehidupan
mereka, agar mereka dapat memaksimalkan potensi mereka, juga mengasah
kecerdasan mereka dalam masa tumbuh kembang.
Bagaimana jika kita menggunakan
alasan “takut jika anak-anak terjerumus pada hal-hal maksiat yang mendatangkan
murka Allah”?
Bahkan meski demikian, kita tidak
bisa memaksakan kehendak kita secara brutal (baca : mutlak). Harus ada proses
untuk memberikan pengertian dan pemahaman, kemudian memberikan opsi-opsi dan
jabaran konsekuensi yang harus mereka terima. Sebijak mungkin, jangan sampai
kita menjadi orangtua yang hyper parenting. Karena sesuatu yang baik,
harus disampaikan dengan cara yang baik pula, agar hasilnya pun baik.
Berikut ini adalah beberapa ciri
dari orangtua yang hyper parenting :
- Sering merasa cemas secara berlebihan tentang anak-anak
mereka
- Kebablasan dalam menjalankan kedisiplinan untuk
anak-anak
- Senang membanding-bandingkan antara anak yang satu
dengan yang lain, bahkan dengan anak orang lain
- Menjadikan prestasi sebagai ukuran keberhasilan (anak
didoktrin untuk selalu menjadi nomor satu) dengan mengesampingkan bahwa
masing-masing anak memiliki kemampuan yang berbeda-beda
- Kecewa secara berlebihan jika melihat kegagalan
anak-anak, bahkan tak jarang menyalahkan guru atas kegagalan tersebut
- Tidak suka jika anak-anak mereka dikritik atau diberi
masukan
- Tidak suka jika anak-anak memiliki waktu “bebas” untuk
bermain bersama kawan-kawannya atau melakukan hobi yang disukainya
Sedangkan dampak atau efek negatif
yang dapat timbul karena orangtua senang memaksakan kehendak mereka pada
anak-anak :
- Anak-anak menjadi pemarah, emosional, pemberontak, dan
pendendam
- Mudah cemas dan memiliki kekhawatiran yang berlebihan
- Sering sakit (terutama sakit kepala)
- Kurang ekspresif, kurang bisa bergaul, dan malas berbicara
- Nampak tertekan, tidak bahagia, dan tidak bergairah
- Dapat mendorong anak untuk melakukan hal-hal menyimpang


No comments:
Post a Comment