![]() |
GUNAKAN METODE TIME OUT UNTUK KENDALIKAN AMARAH ANAK |
GUNAKAN METODE TIME OUT UNTUK KENDALIKAN AMARAH ANAK
Sebagai orang dewasa kita tentu pernah merasakan emosi negatif
seperti marah dan sedih. Anak-anak, seperti halnya orang dewasa, juga bisa
merasakan emosi negatif. Namun demikian, anak-anak tidaklah seperti orang
dewasa yang lebih ahli menguasai emosi negatifnya. Kerap kali dapat kita temui
anak-anak mengamuk untuk mengungkapkan emosi negatifnya. Mereka berteriak,
menendang dan memukul, serta menjadi sulit dikendalikan jika keinginannya tidak
dituruti. Kondisi seperti ini dinamakan temper tantrum, atau sering disebut
tantrum saja. Memenuhi tuntutan anak saat mengamuk secara tidak langsung
mengajarkan bahwa ia bisa mendapatkan segalanya dengan marah. Padahal marah
adalah hal yang harus dikendalikan. Salah satu metode yang dapat dilakukan oleh
orang tua untuk mengatasi marah pada anak adalah metode Time Out.
Time Out adalah cara untuk mengendalikan marah dan menghentikan
perilaku buruk anak dengan memberikannya kesempatan untuk menenangkan diri dan
berpikir kembali atas perbuatan yang dilakukannya. Mengendalikan marah adalah
sebuah keterampilan yang harus diajarkan. Jika tidak, tidak menutup kemungkinan
anak akan mengalami kesulitan mengendalikan emosi hingga saat ia dewasa. Saat
anak marah sebenarnya adalah momen bagi orangtua untuk mengajarkan pengendalian
emosi. Namun karakteristik emosi anak biasanya meledak-ledak, siapalah orangtua
yang tidak panik jika anak sudah ngamuk.
Pada saat anak meledak-ledak emosinya, tidak jarang orangtua berusaha
menasehati anak. Padahal, saat tantrum otak reptil anak sedang aktif. Ini
mengakibatkan semua nasehat akan mental dan tidak akan didengar. Orangtua yang
kesal pada akhirnya memarahi anak. Saat marah kerap kali orangtua menggunakan kata-kata
yang dapat menyakiti anak. Tanpa sadar anak dilabeli nakal dan tidak penurut.
Tepat
Terapkan Time Out
Time Out bukanlah hukuman. Time Out merupakan senjata terakhir
untuk menghadapi perilaku buruk anak jika peringatan tidak mempan. Mempraktekkan
Time Out haruslah dibarengi dengan metode parenting yang benar. Melakukan Time
Out harus di saat yang tepat. Time Out tidak boleh terlalu sering digunakan.
Ingatlah bahwa Time Out adalah jalan terakhir. Time Out digunakan untuk mengatasi
emosi berlebihan dan perilaku buruk yang benar-benar merugikan. Orangtua harus
paham, mana tindakan yang bisa diatasi
dengan Time Out mana yang tidak. Jangan sampai salah.
Contoh kasus anak malas belajar. Perilaku ini tidak tepat jika
diatasi dengan Time Out. Malas belajar dapat diatasi dengna menanamkan semngat
dan pujian kepada anak, serta mencari tahu kesulitan apa yang dihadapi anak
hingga ia enggan belajar. Jika anak dilakukan Time Out karena malas belajar,
bisa-bisa anak mengalami salah motivasi. Belajar bukan untuk mencari ilmu, tapi
agar tidak di-Time Out.
Pada prakteknya, saat Time Out anak dipersilakan untuk duduk
sendiri di tempat yang telah ditentukan. Anak diharapkan dapat menenangkan diri
dan meredakan emosinya. Sebelum melakukan Time Out, komunikasikan kepada anak
apa itu Time Out. Kalau perlu jauh-jauh hari berilah contoh oleh orangtua.
Misalkan saat orang tua kesal, orangtua meminta izin pada anak untuk diam
sejenak sambil berkata, "Ibu mau Time Out dulu di kamar." Dengan
begitu anak mengerti maksud dari Time Out itu apa.
Perlu
diingat bahwa Time Out bukanlah hukuman. Time Out adalah sarana untuk membantu
anak mengendalikan emosinya. Saat akan melakukan Time Out pada anak, pastikan
orangtua bicara tanpa emosi dan tanpa banyak kata-kata untuk berusaha menasehati
anak.
Jika setelah diberi tiga kali peringatan anak tidak menghentikan
perilaku buruknya Time Out bisa dilakukan. Beritahu anak berapa lama ia harus
melakukan Time Out. Lama Time Out disesuaikan dengan usia anak. Saat Time Out
dilakukan orangtua harus konsisten. Jika anak berusaha meninggalkan tempat Time
Out sebelum waktu yang telah disepakati, bawa kembali ke tempatnya. Jika anak
dilakukan Time Out karena marah berlebihan, ajaklah anak berbincang setelah
selesai Time Out. Berempatilah padanya, dengarkan kisah si anak kenapa tadi ia
marah. Bantulah anak untuk mengeluarkan unek-unek kekesalannya agar ia lega.
Namun jika anak dilakukan Time Out karena melakukan perilaku buruk, ajaklah ia
beraktivitas kembali tanpa harus mengungkit perilaku buruknya. Time Out juga
bisa dilakukan pada orang dewasa. Esensi dari Time Out adalah meredakan emosi
negatif. Orang dewasa bisa mengalihkan energi dari emosi negatif untuk hal
lain, misalkan dengan membersihkan rumah atau berjalan kaki.


No comments:
Post a Comment