![]() |
| LANGKAH-LANGKAH UNTUK MEMOTIVASI ANAK |
LANGKAH-LANGKAH UNTUK MEMOTIVASI ANAK
Hampir semua
orangtua pernah merasakan frustrasi ketika harus menghadapi seorang anak atau
remaja yang begitu sulit untuk dimotivasi. Berbagai alasan, permohonan,
ancaman, bahkan pertengkaran setiap hari tidak bisa membuat perbedaan dalam
tingkah laku mereka. Apapun yang orangtua katakan seolah tidak ada yang masuk
dalam hati dan pikiran mereka. Bahkan, semakin kita memberikan mereka dorongan,
semakin menjadi pula sikap semau hati mereka.
Dan sebenarnya,
sebelum kita memotivasi dan mendorong mereka, ada beberapa hal yang harus kita
perhatikan terlebih dahulu.
1.
Introspeksi Diri
Bukan anak yang
kita minta untuk mengintrospeksi dirinya, melainkan kita sendiri sebagai
orangtua. Bagaimana anak bisa menjadi sedemikian tidak pedulinya terhadap
apapun di sekolahnya, itu merupakan tanda tanya besar terhadap pola asuh kita
selama ini. Ya!
Sudah benarkah
cara kita selama ini mendidik dan mengasuhnya? Apakah kita selama ini terlalu
sering memaksanya melakukan apa yang kita inginkan? Atau malah melakukan
pembiaran terhadap apa yang dilakukannya? Apakah kita sering menyalahkannya
terhadap segala sesuatu? Atau kita terlalu banyak menuruti apa yang dia
inginkan?
Pertanyaan-pertanyaan
seperti inilah yang harus bisa membuka mata hati kita, mencari dimana letak
kesalahan kita. Buang rasa “selalu benar” dalam diri kita. Karena kita hanya
manusia biasa yang tidak luput dari kesalahan. Sebagai orangtua, kita tidak
bisa selalu membenarkan apa yang kita pikirkan atau apa yang kita inginkan,
tapi harus mau bersama-sama belajar dengan anak.
2.
Kekompakan Orang tua
Kendalanya yang
juga seringkali terjadi adalah perbedaan sikap atau pola asuh antara ibu dan
ayah. Ayah yang terlalu keras pada anak, dan ibu yang terlalu lembut pada anak.
Atau sebaliknya. Ketidakkompakan inilah yang seringkali dimanfaatkan oleh anak
untuk “mengadu domba” ayah dan ibunya demi mendapatkan apa yang ia inginkan.
Misalnya, ayah
yang terlalu banyak menuntut anak untuk selalu juara kelas, sering mencemooh
bila nilai anak tak cukup baik, sering membanding-bandingkan anak dengan anak
orang lain atau saudaranya yang lain. Sedangkan ibu, hanya bisa pasrah,
bukannya memotivasi anak tapi malah membela anak dengan membiarkannya melakukan
apa yang anak inginkan. Bahkan tak jarang anak memanfaatkan kelemahan dan kasih
sayang ibu untuk memaksakan kehendaknya.
Sudah menjadi satu
keharusan bagi orangtua untuk kompak dalam mendidik dan mengasuh anak. Tentukan
pola asuh yang disepakati, jika perlu konsultasikan terlebih dahulu pada orang yang
ahli di bidang pendidikan anak. Selalu diskusikan segala sesuatunya, dan jangan
saling menyalahkan.
3. Mau
Mengakui Kesalahan dan Berbesar Hati
Tidak semua
orangtua mau mengakui kesalahan dalam pola asuh mereka. Bahkan banyak yang
sudah merasa menyerah, tak lagi bisa berbuat apa-apa untuk memotivasi anak-anak
mereka untuk kembali ke jalan yang benar. Padahal, sudah jelas aturannya, kalau
kita ingin ada perubahan maka perubahan itu harus dimulai dari diri sendiri.
Mengakui kesalahan
itu bukanlah sesuatu yang salah atau buruk. Melainkan mengajarkan anak bahwa
kita sebagai orangtua pun masih harus belajar banyak. Mau mengakui kesalahan
adalah sifat ksatria, dan poin inilah yang seringkali ditunggu-tunggu oleh
seorang anak dari orangtuanya.
Kita sendiri pernah
menjadi anak-anak, mengalami pula masa remaja yang penuh gejolak. Di saat kita
merasa frustrasi, merasa jengkel pada orangtua, kita akan berbuat nakal untuk
menarik perhatian mereka. Untuk membuat orangtua “sadar” bahwa ada sesuatu yang
salah dalam pola mendidik mereka terhadap kita. Dan yang pasti, kita
mengharapkan kata “maaf” dan kesadaran dari orangtua.
Anak
Adalah Refleksi Orangtua Mereka
Sering kali yang
kita lakukan sebagai orangtua saat anak-anak menjadi berbuat nakal atau berbuat
seenak hati, kita akan cenderung bereaksi lebih keras. Utamanya adalah untuk
menyelamatkan harga diri, menutupi rasa malu, dan menghindari tanggapan miring
dari orang lain. Karena bagaimanapun, anak adalah cerminan orangtuanya.
Tentunya kita tak mau dicap sebagai orangtua yang gagal karena tingkah laku
anak kita. Betul?
Tapi, tak ada
salahnya untuk mencoba mengabaikan segala bentuk rasa malu dan takut dicap
gagal itu. Anggapan orang lain adalah nomor sekian, yang utama adalah bagaimana
kita bisa memotivasi anak untuk memperbaiki sikapnya terlebih dahulu. Orang
lain mungkin heran mengapa anak Anda bisa bersikap begitu, tapi mereka pun akan
mengapresiasi ketika kita mencoba memperbaiki anak kita dengan cara yang benar.
Hukum pengasuhan
itu sama seperti hukum menanam benih atau biji. Biji tersebut tidak akan tumbuh
ketika kita menariknya, melainkan akan tumbuh ketika kita menyiram dengan aira
yang cukup dan meletakkannya di tempat yang juga cukup mendapatkan sinar
matahari. Begitu pun dengan pengasuhan, anak kita tidak akan menjadi lebih baik
dengan tarikan atau segala bentuk pemaksaan kehendak. Tapi mereka akan menjadi
lebih baik dengan perhatian yang cukup dan kasih sayang yang tidak memanjakan.
Ambil
Langkah Mundur
Saat anak Anda
tengah mencoba menguras kesabaran Anda, maka cobalah untuk mengambil langkah
mundur, alias hindarilah pertengkaran. Tenangkan diri Anda sejenak, jika perlu
katakan pada anak Anda bahwa Anda membutuhkan waktu sesaat untuk mengontrol
diri. Begitupun dengan dia.
“Oke,
Sayang…kalau kita terus begini, kita nggak akan selesai bertengkar. Maafkan
mama, mama butuh waktu sebentar supaya mama nggak marah-marah. Oke? Mama harap
kamu juga bisa tenang dulu…”
Setelah Anda dan
anak Anda bisa melanjutkan dengan mencari solusi, gunakan kesempatan itu untuk
bertanya tentang apa yang ia inginkan dari Anda. Dengarkan setiap keluh
kesahnya, atau jika ia merasa belum bisa membicarakannya, Anda bisa memintanya
menulis surat untuk Anda.
Memberitahukan
Harapan dan Pilihan, Bukan Pemaksaan
Setelah Anda
mendengarkan apa yang sesungguhnya anak inginkan atau harapkan dari Anda, maka
kini saatnya Anda mengatakan apa yang Anda harapkan darinya. Misalnya, Anda
mengharapkan anak Anda untuk bisa lebih membagi waktu belajar dan bermain
secara proporsional. Anda juga bisa mengajaknya mengatur waktu dan konsekuensi
terhadap apa yang ia lakukan.
“Mama tahu
kamu suka sekali main video game, itu boleh kok. Tapi, mama berharapnya sebelum
main kamu bisa selesaikan dulu PR-mu. Kalau kamu butuh bantuan, kan ada mama
yang siap mengajari.”
Kalau perlu,
buatlah kesepakatan-kesepakatan dengan anak. Semuanya harus dilakukan dengan
kerelaan hati, namun Anda pun tetap bisa tegas padanya.
Selain harapan,
Anda pun harus bisa memberinya berbagai pilihan “sikap” yang bisa ia ambil.
Agar anak-anak pun dapat ikut berpikir tentang konsekuensi dari segala
perbuatan dan langkah yang mereka ambil. Misalnya, ketika anak tidak mau
mengikuti kelas yang Anda usulkan. Anda bisa memberinya beberapa pilihan
beserta resiko dari keputusannya.
“Kalau kamu
masuk bahasa seperti yang kamu mau, memang disana lebih mudah dan sahabatmu ada
disana. Tapi resikonya, setelah lulus SMA jurusan yang mau kamu masuki
terbatas. Kalau kamu berubah pikiran, akan sulit untuk masuk jurusan yang kamu
inginkan. Dan kalau kamu masuk IPA seperti yang mama sarankan, pilihan ke
depannya lebih banyak. Soal pertemanan, mama yakin anak supel seperti kamu
gampang dapat teman. Dan mudah atau tidaknya, mama lebih percaya bahwa itu
mudah bagimu karena kamu adalah anak mama yang cerdas. Tapi yaaa…sekali lagi,
semua itu pilihanmu dan tanggungjawabmu.”
Berikan
Tanggungjawab Pada Anak
Setelah
mendiskusikan harapan-harapan Anda dan anak Anda berikut dengan konsekuensinya,
maka kini sudah saatnya Anda untuk keluar dan memberikan anak Anda kesempatan
untuk memilih jalannya dan bertanggungjawab atas resiko pilihannya.
Yah, mereka memang
anak-anak kita, tapi mereka pun juga manusia yang merdeka. Mereka akan memiliki
kehidupan mereka sendiri, pemikiran mereka sendiri, dan jalan yang akan mereka
lalui sendiri. Semakin kita mengontrol mereka, semakin mereka kehilangan arah
dan tujuan hidup mereka.
Kita orangtua
hanya bisa memberikan arahan, memberikan masukan, support, dan nasehat. Tapi,
kita tidak bisa memaksakan terlalu banyak. Bukan membiarkan mereka berbuat
semaunya, tapi memberikan mereka tanggungjawab dengan sambil terus memantau dan
siap untuk membantu mereka di saat mereka salah.


No comments:
Post a Comment