Membaca merupakan salah satu fungsi tertinggi otak manusia dari semua makhluk hidup di dunia ini, cuma manusia yang dapat membaca. Membaca merupakan fungsi yang paling penting dalam hidup dan dapat dikatakan bahwa semua proses belajar didasarkan pada kemampuan membaca. Anak-anak dapat membaca sebuah kata ketika usia mereka satu tahun, sebuah kalimat ketika berusia dua tahun, dan sebuah buku ketika berusia tiga tahun dan mereka menyukainya.
-Glenn Doman- Belajar Membaca
perlu kesungguhan dan kesabaran dari pihak guru maupun orang tua. Walau
demikian kondisinya, masih banyak orang tua menyerahkan sepenuhnya pendidikan
anaknya kepada guru. Padahal tugas guru adalah sebagai pemberi konsep awal
untuk belajar membaca, cara mebaca, dan teknik mengucapkan bacaan. Selebihnya
adalah tugas orang tua dirumah, mengingat lebih banyaknya prosentasi waktu
dirumah daripada disekolah maupun di tempat pendidikan yang lain semisal tempat
les atau bimbel, sebaiknya orang tua ikut mengajarkan bagaimana caranya agar
anak bisa membaca dengan baik dan cepat.
Adapun cara-caranya adalah sebagai
berikut:
Membaca Bukan Mengeja
Membaca sudah
dapat diajarkan pada balita, bahkan lebih efektif daripada sudah memasuki usia
sekolah. Semakin kecil semakin mudah untuk diajarkan karena semakin muda usia
anak, semakin besar daya serapnya terhadap informasi baru yang tentu saja dalam
batas anak sudah mulai bisa bicara, mengucapkan konsonan dengan benar.
Mengajari anak
membaca yang efektif bukan dengan mengeja seperti cara konvensional di sekolah yang
dimulai pengenalan nama huruf, kemudian mengenal suku kata, barulah mengenal
kata, akhirnya kalimat. Mengajar anak
membaca adalah dengan cara mengenalkan satu kata yang bermakna dan kata
itu sudah akrab pada pikiran anak atau sudah sering di ucapkan sebelumnya.
Seperti: Anak belajar membaca karena
hafal konsonannya (suara) seperti: “a –
i – u – e – o “ ketika dibolak balik
menjadi “ i – o – u – e – a “ anak akan membaca sama yaitu tetap membaca “a – i – u – e – o
“. Karena image anak akan menangkap secara konsonan, bukan secara konsep. Disini
anak akan terlalu lama untuk memahami bentuk huruf, apalagi bagi anak yang
kurang konsentrasi. Anak belajar membaca dengan konsep.
Sebaiknya, dalam
tahap awal ajarkan pada anak bentuk bunyi. “a – i – u – e – o “ Setelah anak
hafal bentuk bunyi, kemudian anak di ajarkan (dipahamkan) bentuk huruf seperti
“a – i – u – e – o “ dengan cara dibolak balik menjadi “ i – o – u – e – a “. .
“o– u – e – i – a “ dan lain sebagainya
sampai anak benar paham bentuk huruf, dan
hal ini tidak membutuhkan waktu yang lama.
Selanjutnya
setelah anak paham bentuk konsonan dan bentuk huruf diatas maka anak akan mulai
memasuki tahap belajar membaca dengan tidak mengeja, dengan metode penggabungan
antara bentuk konsonan dan bentuk huruf. Yang di terapkan secara bertahap dan
tersusun (konstruktif) dari awal sampai akhir.
Metode ini tidak
mengharuskan anak harus menghafal dulu huruf abjad (a – z). tetapi anak
diajarkan dengan sistem silang, dan sistim gabung, anak diajarkan memahami huruf
yang terletak dibelakang huruf mati.
Contoh :
“a = ba, “o =
bo, “i = bi, “e = be ….dst
Disini anak akan
cepat menangkap dan membedakan bentuk dan bunyi huruf.
Tingkat-tingkat Pencapaian Konsep
Dengan metode
ini diharapkan Anak dapat mencapai Empat tingkat konsep belajar membaca yaitu :
1). Tingkat
konkret
Pencapaian
tingkat ini ditandai dengan adanya pengenalan anak terhadap suatu bunyi huruf
dan bentuk huruf. Anak akan bisa mengidentifikasi bahwa itu adalah bunyi dan
bentuk huruf. Anak mampu membedakan
huruf dengan bunyi dan bentuk. Disini anak sudah mampu menyimpan gambaran
bentuk dan bunyi huruf dalam struktur kognitifnya secara mudah.
2). Tingkat
identitas
Anak dapat
mencapai tingkat konsep identitas apabila ia mengenal suatu huruf setelah selang
waktu tertentu. Misalnya mengenal dan dengan spontan menyebut huruf “ C “
ketika ia melihat majalah atau papan nama di pinggir jalan.
3). Tingkat
klasifikatori
Pada tingkat ini
anak sudah mampu mengenal persamaan dari contoh yang berbeda. Misalnya anak mampu
membedakan antara huruf (a) dibelakang huruf (b) maka dengan reflek anak akan
menyebutnya (ba), bukan menyebut per huruf yaitu (b – a = ba) …..dst
4). Tingkat
formal
Pada tingkat ini
anak sudah mampu membatasi suatu kalimat dengan kalimat lain, membedakannya,
menentukan ciri-ciri, bahkan sampai mengevaluasi atau memberikan contoh secara
verbal. Seperti: ini gajah, maka anak akan menggambarkan bahwa bentuk gajah itu
besar, kupingnya lebar, belalainya panjang…dst
Demikian cara mengajar membaca untuk anak yang baik, tulisan di atas hanyalah salah satu cara dan salah satu metode dari beberapa metode yang sekarang banyak digunakan, masing-masing metode tentu punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Tapi sebagus apapun metode yang dilakukan jika tanpa memperhatikan perkembangan dan kebutuhan anak, maka tidak akan efektif dilaksanakan.

No comments:
Post a Comment