Mengajari toilet training sangatlah penting. Bunda tidak perlu lagi kerepotan mengganti popoknya ketika sedang sibuk melakukan aktivitas rumah tangga lainnya. Selain meringankan beban Bunda, kemampuan memakai toilet sendiri juga sangat bermanfaat bagi si Kecil pada masa mendatang dalam kehidupannya.
Lalu.. Bagaimana
cara mengajarinya??
Mengembangkan
kemampuan ini baru bisa dilakukan setelah anak berusia 1,5 tahun. Mengapa? Karena
pada usia 1,5 tahun anak dapat menahan air seni dalam jangka waktu 2 jam.
Kondisi ini disebabkan karena kantong air seni telah bertambah besar secara
ukuran maupun sistem sarafnya yang melakukan kontrol juga sudah berkembang
lebih baik. Kemampuan untuk menahan dan melepaskan buang air kecil ini di awal
tentu saja hasilnya belum sempurna, namun akan terus meningkat sampai dengan
anak mencapai usia 5 tahun.
Untuk langkah
awal yang dilakukan adalah melatih anak untuk buang air kecil di kloset dalam
kamar mandi. Baru kemudian dilatih bagaimana menahan air seni. Karena biasanya
melatih anak untuk buang air kecil di kloset dan membersihkan diri lebih mudah
dibandingkan dengan melatih anak menahan air seninya. Dimulai dengan kita
memperhatikan tanda-tanda anak yang mempunyai keinginan buang air kecil,
misalnya anak nampak menggoyang-goyangkan badan, kaki anak bergerak-gerak,
mukanya mengkerut, kulitnya merinding, tangannya memegang alat kelamin, menangis dan lain-lain. Pada
saat inilah kita mulai melatih kemampuan untuk membuang air seninya di kloset
kamar mandi, caranya adalah sebagai berikut:
1. Menuntun anak
ke kamar mandi, ajaklah anak dengan bahasa yang lemah lembut, seperti:
"Sella terasa mau buang air kecil ya, ayo kita ke kamar mandi, tahan ya
sampai kita sampai di kamar mandi"
2. Dengan sikap
tenang, dudukkan anak pada kloset maupun
pispot (biasanya ada pispot buat anak, sedangkan kalau kloset biasanya di toko
perlengkapan bayi dan anak tersedia bagian atasnya kloset yang khusus untuk
anak). Katakan: " Sella duduk di kloset yaa, Sella bisa buang air kecil di sini".
3. Menunggu anak
bisa membantu anak merasa aman .
4. Usahakan suapaya
anak tidak duduk lebih dari 5 menit. Mengapa? karena terlalu lama menyebabkan
anak merasa bosan dan menyebabkan pengalaman yang tidak menyenangkan sehingga
anak menjadi tidak menyukai proses ini dan pada akhirnya akan menghambat proses
pengajaran yang bunda lakukan.
5. Berilah
pujian bila anak berhasil seperti: "Alhamdulillah yaa, Sella sudah bisa
buang air kecil sendiri". Akan tetapi, bunda jangan terlalu
melebih-lebihkan pujiannya, dan juga jangan memberikan iming-iming hadiah,
karena proses buang kecil ini adalah proses yang sangat alami.
6. Jangan marah terhadap anak, bila anak belum
berhasil melakukannya . Berilah
motivasi, misal dengan: "Sella, belum bisa ya? Baiklah nanti kita coba
lagi, Bunda yakin kalo Sella nanti bisa buang air kecil secara mandiri".
7. Hindari membicarakan
ketidak-berhasilan anak, apabila anak berada di dekat bunda. Hal ini akan
memberikan efek yang sangat besar terhadap anak, karena anak akan malu, merasa
gagal atau sebaliknya akan menjadikan hal ini sebagai senjata anak terhadap
bunda.
Ingat yaa bunda..
selama proses ini, jangan pernah meninggalkan anak tanpa pengawasan di kamar
mandi demi menghindari kecelakaan, seperti terpeleset atau memasukkan sesuatu
yang berbahaya ke dalam mulut.
Mengajari anak
menggunakan toilet memang butuh kesabaran. Hari ini mungkin dia mau mengikuti
semua proses toilet training, namun hal itu bisa saja berbeda pada keesokan
harinya. Jadi, jangan memaksa jika memang anak belum mau melakukannya.
Bersabarlah hingga anak benar-benar terbiasa tanpa popoknya.

wah makasih infonya, saya mau mulai mengajari anak pakai pispot duduk nih hehe.
ReplyDelete