MAINAN ANAK CERDAS

Anak FUN, Bunda Kaya Informasi

LightBlog

Breaking

Friday, February 17, 2017

Cara menghadapi anak yang susah diatur

Menginjak usia 2-3 tahun anak-anak bermetamorfosis menjadi pribadi yang mengagumkan, cepat belajar, memiliki rasa ingin tahu yang besar, dan sering membuat ayah bunda tertawa karena lucu. Dan semakin bertambahnya usia pula, si kecil menjadi pribadi unik yang mempunyai harap dan keinginan sendiri, yang terkadang keinginanya bisa tidak sesuai dengan apa yang ayah bunda harapkan. Sehingga menjadi hal yang wajar jika Ayah dan Bunda merasa jengkel dan ingin memarahinya. Bolehkah??

Ayah Bunda.. jangan meluapkan amarah dan kejengkelan, tetapi nasehatilah anak tanpa meninggalkan kelembutan karena anak kecil masih belajar menjalani kehidupannya, pemahaman mereka tentang segala hal belum sematang orang dewasa. Berikan toleransi jika mereka melakukan kesalahan, berikan kebebasan untuk bertindak namun ajarkan secara tegas tanpa harus marah apa-apa yang tidak boleh dilanggar. Memang tidak mudah, tetapi Ayah Bunda perlu terus-menerus belajar meredakan emosi saat menghadapi anak, terutama saat menghadapi perilaku mereka yang membuat kita ingin berteriak dan membelalak.
Berikut ada beberapa catatan yang harus diperhatikan oleh Ayah dan Bunda, diantaranya:


1.Ajarkan Kepada Mereka Konsekuensi, Bukan Ancaman
Anak-anak belajar dari kita. Mereka suka mengancam karena kita sering menghadapi mereka dengan ancaman. Kemudian mereka melihat bahwa dengan ancaman, apa yang diinginkannya dapat tercapai. Dari kita, mereka juga belajar meluapkan kemarahannya untuk menunjukkan "keakuannya".
Jadi.. Ancaman tidak memberi solusi untuk menghentikan kenakalan anak atau perilaku yang membuat kita sewot. Sebaliknya, ancaman justru membuat anak belajar berontak dan menentang. Salah satu sebabnya, anak merasa orangtua tidak menyayangi ketika kita meneriakkan ancaman di telinga mereka. Selain itu, kita sering lupa menunjukkan apa yang seharusnya dikerjakan oleh anak ketika asyik melontarkan ancaman.
Lalu apa yang perlu kita lakukan?
Pertama, sekali waktu Ayah Bunda perlu duduk bersama dalam suasana yang mesra dengan anak untuk berbicara tentang aturan-aturan.
Kedua, Ayah Bunda bisa membuat komitmen bersama dengan anak untuk mematuhi aturan. Misalnya, mintalah kepada anak agar tenang ketika ada tamu. Kalau ada yang perlu disampaikan, atau anak menginginkan sesuatu, hendaknya menyampaikan kepada orangtua dengan baik-baik dan bersabar bila belum bisa memenuhinya.
Bersama dengan komitmen ini kita bisa membicarakan dengan anak konsekuensi apa yang bisa diterima bila anak mengamuk di saat ada tamu. Konsekuensi ini disampaikan dengan nada yang akrab lhoo yaa. Bukan dengan ancaman. Kemudian apabila anak melakukan hal-hal negatif yang sangat mengganggu, orangtua bisa mengingatkan kembali kepada anak dan lagi-lagi tidak dengan nada mengancam.

Di sinilah letak beratnya. Seringkali Ayah Bunda mudah kehilangan kendali. Mudah membelalak saat marah, tetapi lupa untuk konsisten.

2. Hindari penggunaan ”Bunda kan pernah bilang berkali-kali”

Bunda.. Perilaku yang menjengkelkan memang lebih mudah diingat, lebih membekas dan cenderung menggerakkan kita untuk segera bertindak. Sebaliknya perilaku positif cenderung kurang bisa mendorong kita untuk memberi komentar, kecuali jika perilaku tersebut benar-benar sangat mengesankan. Konsumen yang kecewa pada suatu produk, akan segera menggerutu ke sana kemari, meski kekecewaan itu sebenarnya tidak seberapa. Tetapi konsumen yang puas cenderung akan diam saja, kecuali jika kepuasan itu sangat menakjubkan. Orangtua dan anak juga demikian. Orangtua mudah ingat perilaku negatif anak, sementara anak mungkin tidak bisa melupakan tindakan orangtua yang menyakitkan hatinya.
Salah satu kebiasaan umum orangtua yang menyakitkan hati anak sehingga bisa melemahkan citra dirinya adalah ungkapan, "Bunda kan pernah bilang berkali-kali, tapi kamu tidak mau mendengarkan."
Ungkapan ini memang efektif untuk membuat anak diam menunduk. Tetapi ia diam karena harga dirinya jatuh, bukan karena menyadari kesalahan. Jika ini sering terjadi, anak akan memiliki citra diri yang buruk. Dampak selanjutnya, konsep diri dan harga diri (self esteem) anak akan lemah. Anak melihat belajar memandang dirinya secara negatif, sehingga lupa dengan berbagai kebaikan dan keunggulan yang ia miliki. Sebaliknya orangtua juga demikian, semakin sering berkata seperti itu kepada anak, kita akan semakin mudah bereaksi secara impulsif. Kita semakin percaya pada anggapan sendiri bahwa anak-anak kita memang bandel, menjengkelkan dan susah dinasehati.
Memang tidak mudah tetapi kebiasaan memarahi anak dengan ungkapan "Bunda kan pernah bilang berkali-kali" atau yang sejenis dengan itu, harus dikikis secara sadar dari sekarang. Ayah dan Bunda perlu menguatkan tekad untuk berkata yang lebih positif.

3. Jangan Cela Dirinya, Cukup Perilakunya SajaTidak jarang anak menampakkan perilaku "negatif", padahal ia tidak bermaksud demikian. Suatu ketika, pulang dari play-group anak saya berkata, "Bapak kurang ajar." Setelah saya tanya maksudnya, ternyata dia tidak mengerti makna kurang ajar. Ia mengatakan, "Kurang ajar itu ya main-main, sembunyi-sembunyian."
Kita sangat mudah keliru menangkap maksud anak. Kita gampang terjebak dengan apa yang kita lihat. Karenanya kita perlu belajar untuk lebih terkendali dalam menilai anak. Jangan sampai terjadi anak punya maksud baik, tetapi justru kita cela dirinya sehingga justru mematikan inisiatif-insiatif positifnya. Bahkan andaikan ia memang melakukan tindakan yang negatif, dan ia tahu tindakannya kurang baik, yang kita perlukan adalah menunjukkan bahwa ia seharusnya bertindak positif. Kita luruskan perilakunya. Bukan mencela dirinya. Sibuk mencela anak membuat kita lupa untuk bertanya, "Kenapa anak saya berbuat demikian?" Di samping itu, celaan pada diri -bukan pada tindakan- bisa melemahkan citra diri, harga diri dan percaya diri anak. Pada gilirannya, anak memiliki motivasi yang rapuh.
Persoalan yanglain, sebagian dari kita tidak merasa mencela anak, padahal ucapan kita menyudutkan anak. Misalnya, "Kamu kenapa tidak mau mendengar nasehat Bunda? Kamu selalu saja ngeyel."Pada ucapan ini, fokus kemarahan kita adalah anak, sebagaimana kita tunjukkan dengan kata kamu. Bukan tindakannya yang salah.

4. Jangan Katakan "Jangan"Seringkali kita menggunakan kata jangan begitu melihat anak melakukan tindakan yang kurang kita sukai. Kita juga menggunakan kata jangan, bahkan di saat kita mengharap anak melakukan yang lain. Padahal kata jangan tidak membuat mudah mengerti apa yang seharusnya dilakukan. Akibatnya, anak sulit memenuhi harapan orangtua, sementara orangtua bisa semakin jengkel karena merasa nasehatnya tidak didengar anak. Orangtua merasa anaknya suka ngeyel.

Lalu, apakah kita tidak boleh memberi larangan? Saya tidak dapat membayangkan betapa hancurnya sebuah dunia tanpa ada larangan sama sekali. Begitu pun keluarga. jangan katakan jangan pada saat ia sedang melakukan kesalahan. Tunjukkanlah apa yang seharusnya dilakukan. Atau bersabarlah sampai ia menyelesaikan maksudnya, Kalau kita tidak mau anak bermain pasir di dalam rumah, katakanlah, "Nak, main pasirnya di halaman saja, ya?" Singkat, padat, jelas dan positif. Bukan, "Ayo, jangan main pasir di dalam rumah. Saya pukul kamu nanti."
Kapan sebaiknya kita sampaikan larangan? Saat terbaik adalah ketika anak sedang akrab dengan orangtua. Dalam suasana netral, larangan yang kita berikan pada anak akan lebih efektif. Anak lebih mudah memahami. Mereka bisa menerimanya sebagai aturan. Bukan menganggapnya sebagai serangan kepada dirinya.

No comments:

Post a Comment

Search This Blog

Featured Post

Pasir Kinetik Bandung, Mainan Anak Cerdas