TIPS
AGAR ANAK TERBUKA DAN MAU BERCERITA
Astri tiba-tiba "mogok"
sekolah. Beberapa hari terakhir, gadis kecil itu selalu menangis saat bangun
pagi dan menyampaikan kepada Bundanya, Dini, bahwa ia tak mau sekolah
lagi."Kakak pokoknya enggak mau sekolah," kata Astri tanpa memberikan
alasan.
Bunda Dini bingung. Ia mencoba
menanyakan mengapa Astri tiba-tiba tak mau sekolah. Padahal, selama ini,
putrinya yang berumur 5 tahun itu selalu terlihat bersemangat bangun pagi dan
berangkat ke sekolah. "Kakak cerita dong, kenapa enggak mau sekolah,"
pinta Bunda."Pokoknya kakak enggak mau sekolah di situ," jawabnya
singkat. Usaha Bunda Dini untuk menyakan ke sekolah pun tidak mebuahkan hasil. Para guru menilai, semua
berjalan baik-baik saja.
Tiga hari sudah Astri
"mogok" ke sekolah. Akhirnya, Bunda mengajak ia bermain peran dengan
menggunakan empat boneka Barbie kesukaannya. Astri menamakan ketiga boneka itu
dengan nama temannya, dan satu menggunakan namanya sendiri. "Ayo, Bunda pengen jadi
penonton. Kakak bikin cerita dong tentang kakak dengan teman-teman," kata
Bunda.
Astri menuruti permintaan Bunda,
karena selama ini ia memang selalu bermain peran dengan boneka-bonekanya
tersebut. Pada cerita yang dimainkannya hari itu, Astri mengisahkan bahwa sang
teman mengejeknya karena tas Barbie baru yang dibelinya jelek. Mendengar cerita itu, Bunda Dini
teringat bahwa sehari sebelum "mogok" sekolah, Astri meminta memakai
tas lain dan tak mau menggunakan tas Barbie barunya. Bunda pun mendapatkan
alasan mengapa Astri tak mau sekolah dan menemui para guru untuk melakukan
konseling akan masalah anaknya.
****
Kisah serupa mungkin pernah Bunda
alami. Meski kisah tak persis sama, ternyata memang tak mudah meminta anak untuk
menceritakan masalah yang dihadapi dalam keseharian dan di sekolahnya. Karakter
anak yang cerewet atau suka bercerita, memang tak serta merta membuatnya mau
terbuka dengan masalah yang dihadapinya. Untuk merangsangnya agar mau terbuka,
Bunda pun harus berpikir berbagai cara. Salah satunya yang dilakukan Bunda Dini
dengan menggunakan media boneka dan ternyata efektif membuat Astri menceritakan
masalahnya.
Ada cara lain yang bisa Bunda lakukan
agar anak selalu terbuka dengan apa yang dialaminya. Dikutip dari buku Barbara
Sher “Kiat Melatih Konsentrasi Pikiran Anak”, salah satunya melalui
permainan “Buku Kejadian”. Permainan ini akan membantu Bunda untuk mengetahui
kejadian yang dialami anak dalam kesehariannya. Pertama, siapkan buku tulis
atau buku binder bergambar yang menarik perhatiannya, pena, crayon, selotip
atau lem, benda-benda yang berhubungan dengan kejadian.
Kedua, cara menggunakannya:
1. Jika anak sudah bisa menulis,
minta dia menuliskan kejadian yang dialaminya setiap hari. Atau, jika dia belum
bisa menulis, mintatalah dia bercerita dan Bunda menuliskan atau menggambarkan
ceritanya dalam bentuk karikatur yang menarik. Beri judul buku itu, misalnya,
“Buku Kejadian Astri”.
2. Ada berbagai metode yang dapat
digunakan selain menuliskan cerita atau menggambarkannya. Misalnya, dengan cara
mempersiapkan potongan gambar berkaitan dengan kegiatan yang dijalani setiap
hari, dan ajak ia menempelkannya hingga membentuk alur cerita sesuai kejadian.
Buku ini akan mendorong anak untuk
memerhatikan apa yang terjadi dan mereka alami, juga belajar fokus pada
pengalamannya. Selain itu, ia akan mudah terbuka menceritakan segala sesuatu
yang dialaminya. Nah, agar ia mau terbuka terhadap BUnda, ada beberapa hal yang
harus diperhatikan:
1. Selalu luangkan waktu bersama anak.
Manfaatkan waktu untuk saling bertukar cerita tentang kejadian yang Bunda
jalani setiap hari, dan minta ia melakukan hal yang sama
2. Menjadi pendengar yang baik.
Ketika ia tengah bercerita, sebaiknya Bunda menghentikan semua kesibukan atau
pekerjaan. Duduklah di sampingnya, dan jangan memotong ketika ia sedang
berbicara. Dengan begitu, ia akan merasa mendapatkan perhatian dari Bunda.
3. Bersikap tepat saat anak melakukan
kesalahan. Jangan berteriak atau memarahinya karena akan memberikan jarak
antara Bunda dengannya. Ia pun akan enggan bercerita tentang berbagai hal
karena khawatir akan dimarahi.

No comments:
Post a Comment