Sarkastik sekali ya bahasa yang
saya keluarkan. Namun apakah bunda tau, anak usia 0-1 tahun itu gemar sekali
mencoret-coret sesuatu. Lalu bagaimana tanggapan bunda jika melihat buah hati
melakukan hal tersebut? Memegang pensil/ pena kerja milik ayah dan bunda.
Usia 0-1 tahun, anak sudah mulai
tertarik untuk menggunakan pensil. Dia akan mencoba membuat coretan di atas
kertas dan merasa takjub sendiri akan karya yang dibuatnya. Sehingga dia terus
bereksperimen dengan mencoba menorehkan pensil di mana saja. Hingga suatu kali
Bunda akan mendapati anak sedang asyik mencorat-coret bajunya, lantai, atau
dinding rumah. Di momen ini, sebaiknya Bunda jangan melarangnya. Tapi
memberikan dukungan dan arahan agar anak bisa menyalurkan hobi mencoretnya, di
media yang benar.
Berikut adalah media yang dapat
digunakan untuk anak mencoret-coret:
1.
Papan Tulis Putih
Jika anak
memang senang menulis di tembok dalam posisi berdiri dan vertikal, mengapa tak
sediakan “dinding” yang bisa dicorat-coretnya? Bunda bisa memasang papan tulis
putih yang warnanya mirip dengan dinding rumah. Tapi Bunda juga harus tetap
mengawasi agar alat tulisnya tidak melewati batas papan.
Untuk
mencoret di media papan tulis putih, Bunda bisa mengenalkan anak dengan spidol.
Alat ini cocok buat anak yang baru belajar memegang alat tulis. Sebab tubuh
spidol yang “gendut” mudah dipegang oleh anak.
2.
Meja Belajar
Beberapa
tahun belakangan ini, produsen alat tulis telah menemukan inovasi meja belajar
yang bisa dicorat-coret. Bahan meja ini dibuat mirip dengan papan tulis putih.
Sehingga anak dapat mencorat-coret langsung di meja belajar tanpa merusaknya.
Yang lebih menarik, ada pula papan tulis berbubuk besi yang bisa dicoret dengan
alar tulis berujung magnet. Dengan ini, anak bisa membentuk gambar apapun tanpa
mengotori benda lain.
3.
Kaca
Ayah dan
Bunda juga bisa menyediakan kaca agar anak agar bisa mencoret. Kaca yang
digunakan seperti yang ada pada ruang rapat di berbagai kantor. Seperti halnya
papan tulis putih atau whiteboard, Bunda bisa memberikan anak alat
tulis berupa spidol non-permanen. Selain bentuknya yang mudah dipegang, tinta
spidol ini bisa dihapus dengan mudah.
4.
Pasir
Pada tahap
awal pelajaran menulis, Bunda tak perlu selalu memberikan pensil atau pena
kepada anak. Tapi bisa pula menstimulasi motorik halus anak dengan mengajaknya
menulis di atas pasir dengan jari. Untuk cara mudah, siapkanlah sebidang lahan
kecil di sudut halaman atau tuang pasir di atas baskom, bila halaman rumah
kecil. Sebelum belajar menulis berlangsung, sebaiknya Bunda ratakan dulu
permukaan pasir, sehingga hasil tulisan dapat terlihat jelas. Untuk awalan,
Bunda bisa mencontohkan cara menulis di atas pasir dengan membuat bentuk sederhana
seperti lingkaran. Selanjutnya, biarkan anak bereksperiman sendiri.
Selama
kegiatan menulis di pasir, Bunda dapat melakukan variasi dengan mengubah pasir
kering menjadi pasir basah, cukup menambahkan sedikit air. Di tahap ini, anak
akan merasakan perbedaan saat menulis di atas pasir kering dan basah. Biarkan
ia mencari perbedaan tersebut dan menceritakan pengalamannya.Bunda juga bisa
mengajak anak ke pantai atau taman yang dilengkapi kolam pasir. Bunda dapat
mencontohkan padanya menulis di atas pasir menggunakan jari atau ranting.
Selain belajar, ia bisa bermain dengan gembira.
Yuk stimulasi
terus kemampuan motorik halus anak dengan variasi media tulis. Dengan demikian,
anak bebas membuat coretan, tapi rumah tidak jadi berantakan.

No comments:
Post a Comment