![]() |
| MENJELASKAN TAYANGAN KEKERASAN PADA ANAK |
MENJELASKAN TAYANGAN
KEKERASAN PADA ANAK
Tidak dapat dipungkiri bahwa
anak-anak sulit dijauhkan dari media elektronik terutama televisi. Setiap hari,
si kecil dibombardir oleh berbagai macam acara yang sebetulnya belum saatnya
mereka tonton. Mulai dari acara musik yang mengumbar lagu-lagu cinta orang
dewasa, sinetron laga, film-film yang mempertontonkan darah, hingga tayangan
berita yang sifatnya informatif pun harus Bunda waspadai pengaruhnya terhadap
anak. Banyak orang tua yang belum siap menjawab saat ditanya "Bun,
kenapa sih kok orang lempar
bom?" atau "Ayah,
kenapa orang itu pukul-pukulan, kan sakit?". Jika selama ini Bunda cuma sekedar menjawab bahwa mereka orang-orang
jahat lantas mengganti saluran televisi, maka sudah saatnya Bunda belajar untuk
menjelaskan dengan lebih detail. Hal ini penting karena anak adalah imitator
handal yang penuh dengan rasa penasaran. Jangan sampai si kecil meniru perilaku
buruk dari tokoh-tokoh yang Ia lihat di televisi.
Nah, daripada selalu menghindar dari
pertanyaan sang buah hati, lebih baik Bunda mempersiapkan diri dengan cara-cara
ini;
Keep it
simple
Lalu bagaimana donk jika si kecil
memborbardir Bunda dengan pertanyaan tentang berita kekerasan tersebut? Bunda
boleh menggunakan kosa kata seperti "orang jahat" atau "itu tidak baik" untuk mendeskripsikan suatu kejadian. Namun Bunda
tidak perlu menambahkan kosa kata baru seperti tragedi, penjahat, perampok,
pemerkosa, penembak dan lain-lain. Cukup berikan informasi yang ia perlukan
tanpa membuatnya jauh lebih penasaran lagi.
Tetap Berlaku Seperti Biasa
Bunda pasti akan lebih protektif
dalam menjaga keselamatan si kecil dan berupaya sebisa mungkin agar selalu
berada di dekatnya. Padahal justru hal-hal rutin dan normal yang akan
membuatnya merasa aman. Jangan sampai Bunda terlalu cemas hingga membuatnya
bolos sekolah. Tetap berlakulah seperti biasa sebagaimana sebelum perampokan
terjadi. Lakukan upaya seperlunya saja seperti jangan biarkan si kecil memakai
perhiasan atau membawa ponsel.
Bersiaplah untuk Tidak Membicarakan
Apapun
Yup, sekalipun si kecil mengetahui
suatu kejadian buruk, dia mungkin akan melupakan hal tersebut begitu saja.
Terlebih jika Bunda bersikap tenang di depannya. Oleh karena itu, jika suatu
saat Bunda dan si kecil menonton tayangan yang berbau kekerasan, jangan
langsung tergerak untuk menasehatinya atau menekankan bahwa hal tersebut salah.
Jika anak tak bertanya maka sebaiknya Bunda diam saja karena bisa jadi
pikirannya tidak sedang tertuju ke layar Televisi.
Jauhkan Anak dari Berita
Jika si kecil bersikap biasa saja
saat pertama kali mendengar pemberitaan tentang pengeboman di Televisi, maka
bisa jadi ia akan ketakutan saat mendengarnya untuk kali kedua. Pemberitaan
yang terus menerus akan membuat anak berpikir bahwa suatu tragedi terjadi
berulang kali. Sebaiknya Bunda matikan televisi dan jauhkan ia dari koran.
Cari tahu seberapa jauh anak
memahami suatu berita
Apabila si kecil mendengar kabar soal
perampokan yang terjadi di dekat rumah, maka Bunda jangan buru-buru berasumsi
bahwa reaksi si kecil sama dengan Bunda yakni ketakutan dan cemas menjadi
korban selanjutnya. No Moms, si
kecil belum mampu berpikir abstrak. Lebih baik suruh si kecil duduk dan
tanyakan padanya apa saja kabar yang Ia tahu. Dengarkan dengan seksama sebelum
akhirnya menanyakan bagaimana pendapatnya tentang kasus tersebut. Cara ini
tentu lebih efektif daripada sibuk menasehati anak agar jangan memakai kalung
emas atau menenteng ponsel saat bepergian keluar rumah. Justru jika Anda
semakin menekankan kata 'berbahaya', si kecil akan semakin cemas.
Hargai Perasaan Anak
Sebisa mungkin Bunda menghindari
perkataan, "Jangan sedih ya, jangan takut!" pada anak. Kata 'jangan' justru membatasi anak untuk
mengekspresikan perasaan mereka yang sebenarnya. Lebih baik Bunda
menenangkannya dengan berkata, "Bunda tahu kamu pasti cemas
gara-gara perampokan kemarin. Tapi kita akan melakukan segala cara supaya kita
aman. Begitu juga dengan teman-temanmu di sekolah, kita semua pasti aman,
kok".
Beri Anak Rasa Aman
Di setiap akhir percakapan, jangan
lupa menambahkan kalimat, "Tapi adek tidak perlu
khawatir ya, kita sekeluarga aman kok," agar membuatnya merasa jauh dari hal-hal buruk yang ia lihat di
televisi. Begitu pula saat ia berada di sekolah, beri si kecil rasa aman bahwa
sekolahnya jauh dari orang-orang jahat.
Contoh Jawaban atas
Pertanyaan-pertanyaan si kecil
"Bun,
kenapa kok orang itu meninggal?"
Pertanyaan ini kerap muncul saat Bunda dan si kecil sedang melihat pemberitaan tentang pengeboman atau psikopat yang membunuh teman-teman sekolahnya tanpa alasan yang jelas. Tentu susah menjelaskan konsep teroris atau psikopat pada anak, maka dari itu Bunda cukup menjawab, "Orang jahat itu sedang marah dan melukai orang". Lalu, tegaskanlah sekali lagi bahwa tragedi seperti itu sangat jarang terjadi dan keluarga Bunda pasti aman. Dengan menjauhkan anak dari kosa kata berbau negatif seperti pemerkosa, teroris, pelacur, atau psikopat, maka Bunda akan melindungi si kecil dari hal-hal yang lebih buruk di luar sana. Menggunakan hanya kata-kata jahat, marah, dan luka akan mempertegas bahwa semua hal yang melukai orang lain itu jahat dan kejahatan hanya muncul jika seseorang itu marah. Nah, pelajaran ini harus ditanamkan sejak dini pada si kecil sehingga ia memiliki suatu konsep pemikiran bahwa menjadi pemarah itu tidak baik.
Pertanyaan ini kerap muncul saat Bunda dan si kecil sedang melihat pemberitaan tentang pengeboman atau psikopat yang membunuh teman-teman sekolahnya tanpa alasan yang jelas. Tentu susah menjelaskan konsep teroris atau psikopat pada anak, maka dari itu Bunda cukup menjawab, "Orang jahat itu sedang marah dan melukai orang". Lalu, tegaskanlah sekali lagi bahwa tragedi seperti itu sangat jarang terjadi dan keluarga Bunda pasti aman. Dengan menjauhkan anak dari kosa kata berbau negatif seperti pemerkosa, teroris, pelacur, atau psikopat, maka Bunda akan melindungi si kecil dari hal-hal yang lebih buruk di luar sana. Menggunakan hanya kata-kata jahat, marah, dan luka akan mempertegas bahwa semua hal yang melukai orang lain itu jahat dan kejahatan hanya muncul jika seseorang itu marah. Nah, pelajaran ini harus ditanamkan sejak dini pada si kecil sehingga ia memiliki suatu konsep pemikiran bahwa menjadi pemarah itu tidak baik.
Namun apabila si kecil sudah terlanjur mengenal kosa kata buruk tersebut,
maka yang perlu Bunda lakukan adalah memberinya rasa aman. Buatlah sang buah
hati merasa dicintai dan dilindungi dengan mengatakan bahwa keluarga Anda akan
melakukan segala cara untuk menjaga satu sama lain. Misalnya, katakan pada si
kecil bahwa orang asing dilarang masuk sekolahnya, jadi ia pasti aman. Atau,
jelaskan bahwa Ayah selalu mengunci pintu rumah dan pagar sehingga pencuri
tidak akan bisa masuk.
"Kenapa kok Bunda nangis?" Seringkali Anda tidak dapat menahan rasa haru saat
melihat korban musibah bencana alam atau kisah wanita yang mengalami kekerasan
dalam rumah tangga. Tanpa sadar, air mata Bunda pecah dan membuat sang buah
hati ketakutan. Jawaban terbaik yang dapat Bunda berikan adalah, "Mama
sedih karena orang itu disakiti". Melingkupi
anak dengan rasa aman bukan berarti membuatnya tidak sadar bahwa kejahatan
dapat terjadi di mana saja. Oleh karena itu, beri dia pemahaman bahwa keluarga
Anda sudah menyiapkan rencana terbaik jika suatu hal buruk terjadi. Misalnya,
dengan memberinya arahan untuk berkumpul di lapangan dekat sekolahnya jika hal
buruk seperti gempa bumi atau tsunami terjadi saat jam sekolah. Juga, berikan
anak buku agenda yang berisi nomor telepon keluarga dan orang-orang terdekatnya
sehingga Ia tahu harus menelepon kemana saat Ia ketakutan atau hilang arah.
Dengan begitu, Bunda tidak hanya menawarkannya jawaban yang bersifat
menenangkan, namun juga jawaban solutif yang membuatnya tidak mudah khawatir
lagi di kemudian hari.


No comments:
Post a Comment