Pendidikan
anak begitu penting, mengingat usia 0-6 tahun adalah masa emas atau Golden Age.
Masa Golden Age ialah masa Anak Usia Dini (AUD) untuk mengekplorasi hal-hal
yang ingin mereka lakukan, senang bermain dan peka terhadap rangsangan sekitar.
Menurut Clark, sel otak anak memiliki kisaran antara 100-200 miliar sel otak.
Namun dari hasil penelitian menyatakan bahwa hanya 5% potensi otak yang tepakai
karena kurangnya stimulasi yang berfungsi untuk mengoptimalkan fungsi otak.
Horward Gardner menyatakan bahwa anak pada usia lima tahun pertama selalu
diwarnai dengan keberhasilan dalam belajar segala hal. Dalam lembaga PAUD
menyediakan berbagai kegiatan, seperti kognitif, bahasa, emosi, fisik, dan
motorik. Kegiatan ini bertujuan untuk menumbuhkembangkan kemampuan anak baik
bersifat motorik maupun non-motorik.
![]() |
| Apa Itu Golden Age? |
Di
dalam kandungan anak telah dididik oleh ibu, dengan diberikan
rangsangan-rangsangan berupa nyanyian, bacaan Al-Qur’an, bahkan ketika ibu
sedang beraktifitas sekalipun. Hingga dilahirkan pun ketika ia masih bayi,
orang tua juga telah mendidiknya, dengan cara mengajak anak berinteraksi dengan
senyuman, mengajak berbicara sebagai respon yang positif kepada anak dan untuk
merangsang atau memberi stimulasi kepada anak untuk memperkuat ikatan batin
antara ibu dan anak.
Secara
umum, tujuan Pendidikan Anak Usia Dini adalah untuk mengembangkan potensi anak
sejak dini sebagai persiapan untuk hidup dan dapat menyesuaikan diri dengan
lingkungannya. Anak yang hidup di perkotaan dengan anak yang hidup di pedesaan
mungkin karakter mereka akan sedikit berbeda. Sebagai contoh, menurut
pengamatan saya seorang anak yang hidup dan dididik di perkotaan mereka kurang
bersosialisasi dengan lingkungan sekitarnya, hidup mereka cenderung individual.
Mereka hanya berinteraksi dengan teman-teman satu ruang lingkup dimana ia
disekolahkan saja, sedangkan dengan teman yang bertetangga mereka kurang
mengenal satu sama lain. Mereka lebih banyak menghabiskan waktu di rumah dengan
disediakan berbagai sarana bermain berupa computer, game, dan lain-lain tanpa
harus bergaul dengan teman di lingkungan sekitar. Berbeda dengan anak yang
hidup dan dididik di pedesaan. Mereka akan menghabiskan waktu mereka untuk
bermain bersama teman-teman satu kampung. Anak yang hidup di desa selalu ingin
tahu, mencoba, dan berpetualang terhadap hal-hal baru yang mereka lihat.
Permainan yang mereka peragakan pun juga cenderung tradisional, sehingga mereka
tidak hanya mengalami perkembangan fisik saja, tetapi juga melatih kepakaan
terhadap lingkungan sekitar.
Dalam
Pendidikan Anak Usia Dini seorang pendidik harus menggunakan tiga pendekatan,
yaitu Learning by Playing, Learning by Doing, dan Learning by stimulating.
Disamping itu, seorang pendidik hendaknya memahami karakteristik dari
masing-masing anak. Karena karakter dari masing-masing anak pastinya berbeda.
Karakteristik Anak Usia Dini tersebut antara lain: (1) Anak sangat peka
terhadap lingkungan sekitarnya mulai dari apa yang mereka lihat hingga rasa
ingin tahu mereka yang sangat tinggi, (2) Anak Usia Dini bersifat egosentris,
dia tidak terlalu mempedulikan perkataan dan perbuatan orang lain karena
menganggap dirinya yang benar, (3) Masa pembangkangan merupakan hal yang harus
diperhatikan oleh orang tua, jika tidak maka akan berdampak buruk pada karakter
anak pada saat dewasa nantinya, (4) Masa imitasi atau meniru, anak senang
meniru dengan hal-hal yang mereka lihat, sebagai contoh, ketika ada seorang
teman yang menggunakan topeng, mereka juga ingin memiliki topeng, sehingga
meminta kepada orang tua untuk membelikannya topang, (5) Berkelompok, ialah
mengenai kelompok bermain anak. Mereka lebih menyukai bermain di luar bersama
teman sebayanya daripada hanya bermain di rumah saja, (6) Eksplorasi, sangat
tepat jika pendidik mempunyai berbagai macam alat bermain dan permainan yang
dapat membuat anak selalu antusias untuk mengikuti pengajaran dan menciptakan
suasana yang menyenangkan bagi anak.


No comments:
Post a Comment