![]() |
| STRATEGI MENDISIPLINKAN ANAK |
STRATEGI MENDISIPLINKAN ANAK
Mendisiplinkan anak adalah salah
satu tantangan terbesar bagi orangtua. Terutama bila anak berperilaku
tidak pantas atau menjengkelkan. Dan sering kali, orangtua merasa kepayahan dan
bingung bagaimana mengatasi dan mendisiplinkan anak-anak mereka di tempat umum.
Kebanyakan orangtua masih menghindari pendisiplinan anak, demi menghindari
kemarahan dan tangis anak yang semakin menjadi bila keinginan mereka tidak
dituruti.
Beberapa orangtua mengaku stres dan
malu, bila melihat anak mereka sampai bergulingan di tanah sambil menangis dan
berteriak meminta dibelikan apa yang mereka inginkan. Di satu sisi, orangtua
sadar bahwa menuruti setiap keinginan anak bukanlah hal yang baik, tapi di sisi
lain, menjadi tontonan khalayak ramai pun sangat menyesakkan dada.
Namun, ada 2 hal yang patut kita
catat baik-baik :
Pertama, bahwa perilaku buruk pada
balita sesungguhnya adalah hal yang bisa dikatakan normal, karena mereka sedang
dalam proses memahami diri dan emosi mereka. Kedua, sebagai orangtua, adalah
kewajiban kita untuk membantu anak-anak kita belajar bagaimana mengenali dan
mengendalikan diri mereka sendiri.
Bagaimana strategi untuk
mendisiplinkan anak? Pahami, bahwa mengajarkan batasan pada anak, belajar
mengatakan “tidak” pada anak, dan membina anak untuk mempraktekkan perilaku
yang baik adalah penting dalam proses pendisiplinan. Bantu anak-anak untuk
melalui setiap fase hidupnya dengan disiplin yang penuh kasih, karena hal ini
merupakan bagian integral dari pembangunan karakternya, yang sangat dibutuhkan
untuk membantunya tumbuh menjadi pribadi-pribadi yang baik dan sehat di masa
remaja dan dewasanya. Dan harus kita akui, ini tidak mudah.
Ada 4 langkah efektif untuk
memperbaiki perilaku anak :
1. Cepat dan amankan
Langkah pendisiplinan itu
berbeda-beda pada setiap tahap perkembangan anak. Untuk anak remaja, kita
mungkin bisa menghabiskan waktu lebih banyak untuk mengajaknya bicara,
berdiskusi, dan memberikan pemahaman tentang perilaku dan pelanggaran yang
mereka lakukan. Tapi, untuk anak-anak balita, kita harus memahami bahwa
audiensi mereka sangat singkat. Kita tidak bisa mengajak mereka, atau bahkan
mengomeli mereka lama-lama. Yang harus kita lakukan adalah bertindak cepat
untuk memperbaiki perilaku mereka dan menempatkan mereka ke tempat yang aman,
untuk menghindari penyerangan secara fisik. Misalnya, ketika anak Anda merebut
mainan milik temannya, maka segera tengahi keduanya dan katakan pada anak
Anda, “kita tidak merebut mainan milik teman”. Lalu bawa ia menjauh dari temannya
sejenak, sambil mengatakan padanya, “kita main bersama lagi kalau kamu sudah
tenang dan mau meminjam dengan baik”.
Pada prakteknya, kejadian semacam
tadi akan selalu berulang. Kita tidak bisa mengharapkan dalam seketika itu juga
anak berubah menjadi baik dan disiplin. Disinilah tugas kita untuk selalu
mendisiplinkan anak dengan penuh kasih dan kesabaran. Karena ala bisa karena
biasa. Semakin anak dibiasakan untuk berperilaku baik, maka perilaku baik
itulah yang akan menjadi kebiasaannya.
2. Konsisten
Langkah kedua dalam memperbaiki
perilaku anak adalah konsistensi. Ya, konsisten. Jangan pernah remehkan
anak-anak Anda! Mereka sangat cerdas dan mahir merasakan keragu-raguan orangtua
mereka. Terlebih lagi, bila orangtua mereka sendiri tidak kompak. Mereka akan
sangat mudah menemukan “celah” untuk bisa lolos dari pendisiplinan. Misalnya,
di awal, Anda sudah memutuskan bahwa dalam sehari mereka hanya boleh menonton
TV selama 1 jam. Maka konsistenlah. Jangan goyah dengan rengekan atau rayuan
mereka. Bila perlu, sebelumnya Anda bisa membuat kesepakatan bersama terlebih
dahulu dengan anak Anda. Jadi, ketika mereka mencoba “melobi” Anda, Anda tetap
bisa memegang kendali. Anda bisa mengatakan, “ini kesepakatan yang sudah kita
buat”. Dan bila mereka terus merengek, katakan, “kita tidak melanggar
kesepakatan, karena bila itu dilanggar itu artinya tidak ada menonton sama
sekali,”.
3. Berikan pilihan
Anak-anak seringkali merasa bahwa
kehidupan mereka terlalu banyak disetir oleh orangtua. Mereka tidak memiliki
kebebasan untuk memilih apa yang mereka inginkan. Karena itulah, kita sebagai
orangtua pun sebaiknya memberikan mereka kesempatan untuk menentukan pilihan
mereka. Memberikan kesempatan memilih bukan berarti mereka dilepas begitu saja,
kok. Tapi, kita bisa membantu mengarahkan mereka juga dan memberitahu
mereka baik dan buruknya setiap pilihan yang ada.
4. Ajarkan tentang konsekuensi
Anak-anak perlu diajari tentang
konsekuensi, baik positif maupun negatif. Sepanjang hidup, setiap perilaku
memiliki konsekuensi.
Sesungguhnya mendisplinkan anak
tidak pernah mudah, tapi bukan tidak mungkin untuk dilakukan. Dibutuhkan waktu,
usaha, dan energi yang kesemuanya itu harus selalu kita sediakan dalam proses
pendidikan mereka. Ingatlah bahwa semua proses ini anak membuahkan hasil yang
baik, bila kita pun menjalaninya dengan konsisten dan sabar.


No comments:
Post a Comment