![]() |
| TUJUAN POLA ASUH PADA ANAK |
TUJUAN POLA ASUH PADA ANAK
Mengasuh dan mendidik anak adalah
tugas dan tanggungjawab yang paling berat bagi para orangtua. Tapi, bukan
tidak mungkin melakukannya. Yang terpenting adalah bahwa setiap orangtua itu
sadar untuk mengilmuinya dan mau belajar untuk menjadi orangtua yang lebih baik
lagi.
Nah, mari kita lihat ke sekeliling
kita. Kalau kita membaca di koran atau melalui internet atau juga melihat di
TV, betapa banyak kasus-kasus yang melibatkan anak-anak dan remaja. Contohnya :
- Maraknya kasus bullying bahkan membunuh di
lingkup sekolah.
- Perilaku anak dan remaja yang tidak mencerminkan
usianya.
- Ucapan kasar, umpatan-umpatan yang tidak lagi dianggap
tabu.
- Pacaran yang “melebihi” pasangan suami istri.
Miris, bukan? Apalagi, di jaman
media sosial seperti sekarang, pasti tau lah kasus-kasus yang sekarang ini
sedang hot jadi pembicaraan dimana-mana. Dan makin heran ketika contoh yang
tidak baik itu justru menjadi artis yang dipuja-puja oleh sebagian besar anak
remaja. Makin geleng-geleng kepala lagi ketika dugem, minum alkohol, ciuman
sembarangan di depan umum, berendam di jacuzzi bareng pacar,
mengeluarkan umpatan-umpatan kotor, itu semua justru mendapatkan pembelaan dan
menganggap itu hal biasa.
“Ya udah sih, namanya juga
remaja…Kayak ngga pernah remaja aja…”
“I’m bad girl, tapi kan aku ngga
pakai narkoba…”
“Aku tahu itu dosa, tapi ngapain
ngurusin sih? Dosa juga aku yang nanggung…”
Duuh, makin puyeng deh kalau
ngikutin berita kemana-mana juga.
Tapi, apa iya semua buruk? Apa ngga
ada harapan buat anak-anak kita ke depannya?
In syaa Allah, masih ada harapan,
Moms. Meski miris karena sebagian besar yang terekspos itu justru berita-berita
yang buruk, tapi semoga itu bisa kita ambil ibrahnya agar kita bisa lebih baik
dalam mendidik dan mengasuh anak-anak kita.
Ingat Musa, kan? Itu yang juara
hafizh cilik di stasiun TV swasta. Atau pelajar-pelajar berprestasi yang
menciptakan penemuan-penemuan inovatif di bidang teknologi dan sains, dll. Atau
kisah pelajar yang memperjuangkan kejujuran, walaupun harus tidak lulus UAN 3X,
keluar sekolah dan memilih jalur homeschooling karena nggak kuat melihat
lingkungannya penuh ketidakjujuran.
Masih ada harapan, Bunda. In sya
Allah masih banyak contoh-contoh baik yang bisa diikuti oleh anak-anak kita.
Tinggal kita nih, orangtuanya.
Barangkali kita bertanya-tanya ya,
kenapa sih kok anak-anak ini bisa beda banget? Apa yang bisa menyebabkan
anak-anak itu berbeda?
Pertama, setiap anak itu unik. Udah
bawaan lahir, tidak akan ada yang menyamai. Itu sudah jadi sunnatullah, bahwa
setiap individu itu membawa dirinya masing-masing. Tapi keunikan ini bisa jadi
baik atau bisa jadi buruk, tergantung bagaimana nanti orangtuanya dalam
mengasuhnya.
Kedua, keluarganya. Bagaimana anak
itu tumbuh dan berkembang dalam lingkup keluarganya, itu berpengaruh. Bagaimana
orangtuanya memberikan asupan gizi, bagaimana orangtua mengasuhnya,
mendidiknya, itu sangat berpengaruh. Intinya disini, pola asuh keluarga.
Ketiga, lingkungan di luar lingkup
keluarga. Entah itu kerabat dekat, tetangga, sekolah, teman-teman sepermainan,
ini juga berpengaruh. Disadari atau tidak, faktor lingkungan berkaitan erat
dengan pembentukan karakter anak. Pola asuh keluarga dan lingkungan adalah dua
faktor yang saling mendukung.
Nah, apa sih pola asuh itu?
Pola asuh adalah suatu cara atau
sistem dalam menjaga, merawat, mendidik dan membimbing anak-anak yang
merupakan suatu kewajiban dari setiap orang tua dalam usaha membentuk pribadi
anak yang sesuai dengan harapan masyarakat pada umumnya.
Setiap orangtua selalu menginginkan
yang terbaik bagi anak-anak mereka. Pasti ya. Nah, perasaan ini kemudian
mendorong orangtua untuk memiliki perilaku tertentu dalam mengasuh anak-anak
mereka. Inilah POLA ASUH.
Dan, pola asuh orangtua yang
diterapkan pada anak ini sifatnya relatif konsisten atau sama dari
waktu ke waktu. Misalnya, kalau kita membangunkan anak shalat subuh, disadari
atau tidak, caranya pasti hampir sama setiap saat. Ada yang membangunkan sambil
menepuk-nepuk anak, ada yang bersuara keras, ada juga yang sambil menciumi anak
agar bangun, dan lain sebagainya. Intinya, relatif sama.
Nah, pola perilaku ini dapat
dirasakan anak dari segi negatif maupun segi positif. Kan ada yang memang pola
asuhnya sudah baik, jadi yang dirasakan anak positif. Tapi ada juga yang keras,
jadi penerimaan anak negatif.
Apa sih tujuan pola asuh itu?
Kita mengasuh anak untuk apa, Bunda?
Pasti ada tujuannya kan? Semua ini juga relatif. Setiap orangtua punya goal
atau tujuan yang berbeda-beda dalam mengasuh anaknya.
Tapi kalau dalam Islam, ada
tujuan-tujuan yang harus dicapai oleh setiap orangtua dalam mendidik
anak-anaknya. Apa saja kah itu?
- Aqidah yang kuat. Kita mengasuh dan mendidik anak untuk
membentuk aqidah yang kuat pada anak. Makanya pendidikan yang pertama itu
adalah pendidikan tauhid, dimana orangtua menanamkan tauhid atau aqidah
yang benar sesuai Al Qur’an dan Sunnah kepada anak-anaknya. Mengajarkan
lafadz “laa ilaaha illallaah” sebagai yang pertama kali dikenal anak.
Mengajarkan bahwa Allah itu satu, tiada sesembahan yang berhak disembah
kecuali Allah. Menanamkan keimanan, bahwa Allah Maha Melihat setiap yang
anak lakukan sekecil apapun. Dan yang semisal dengan itu.
- Akhlak yang mulia. Pasti tidak ada orangtua yang
menginginkan anaknya menjadi anak-anak yang berakhlak buruk, bukan? Setiap
orangtua, masyarakat, mengharapkan anak-anak tumbuh dengan akhlak dan
perilaku yang baik. Nah, salah satu tujuan pengasuhan yang penting juga
adalah untuk membentuk anak-anak dengan karakter yang baik ini juga.
- Ibadah yang benar. Jangan lupakan bahwa kita diciptakan
oleh Allah untuk beribadah kepadaNya. Demikian juga ini kita tanamkan
kepada anak-anak kita. Pola asuh kita juga bertujuan untuk mendidik
anak-anak kita agar mampu beribadah kepada Allah dengan cara yang benar.
Yang sesuai dengan tuntunan Allah dan RasulNya.
Nah, berhasil atau tidaknya orangtua
dalam mencapai goal-goal pengasuhan ini, tergantung bagaimana pola asuhnya
terhadap anak-anak. Berhasil kah? Atau gagal kah? Kembali lagi semuanya kepada
orangtua.
Siap belajar menjadi orangtua yang
lebih baik?


No comments:
Post a Comment